Kampungbugis.com - Si Gajang Laleng Lipa, Nilai Sebuah Harga Diri dari Suku Bugis.

Ritual Pertarungan dalam Sarung Ala Suku Bugis Ini Berbahaya dan Mematikan - Telah diketahui secara luas oleh orang-orang bahwa ada sebuah nilai yang dihargai sangat tinggi oleh kaum-kaum dari suku Bugis dan Makassar. Siri adalah sebuah nilai luhur yang melekat erat dengan kehidupan suku bugis yang padanya nyawa sekalipun belum cukup untuk menandingi nilai tersebut.

Adat dan corak kehidupan suku Bugis yang mendiami Sulawesi Selatan memang cenderung unik. Banyak ritual adat yang dilakukan sebagai bentuk keyakinan bagi masyarakat bugis kepada kekuatan diluar kemampuan manusia yang juga ikut berperan dalam mengatur arah kehidupan manusia. Suku Bugis mengenal banyak elemen baru dalam kehidupan yang tidka diperkenalkan oleh suku manapun di Indonesia, sebagai contoh Bissu atau pendeta suci. Bissu itu sendiri adalah seorang pendeta suci yang tidak dapat digolongkan ke dalam Laki-laki ataupun wanita meskipun memiliki bentuk fisik dari Laki-laki. Para Bissu dipercaya sebagai perantara antara kehidupan manusia dan juga Dewa oleh karena itu para Bissu memiliki ilmu kanuragan dan cenderung sakti, meskipun demikian Bissu adalah orang yang sudah mulai melepaskan diri dari hasrat dunia sehingga kemampuan tidka digunakan untuk kehendak sendiri.

Kisah epik I La Galigo juga memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan Suku-suku di Sulawesi Selatan termasuk Bugis. Salah satu dampaknya masih dapat dilihat adalah adanya kepercayaan mengenai Batara dan juga Dewata yang ada di atas langit yang ikut memperhatikan kehidupan Masyarakat.

Suku Bugis yang sebagian besar terletak di Sulawesi Selatan memiliki keunikan tersendiri dalam adat dan budayanya. Masyarakat Bugis memiliki seorang pendeta suci bernama Bissu. Dia adalah seseorang yang tidak bisa dikategorikan pria atau wanita namun berperan besar sebagai perantara antara Manusia dan Dewa. Selain dari konsepsi keagamaan, kehidupan suku bugis sangat detail mengatur anatara hubungan sesame Manusia, termasuk dalam tata cara menyelesaikan sengketa antara dua orang atau lebih. Salah satu hal yang mungkin sangat jarang dilakukan oleh suku-suku lain di luar Sulawesi Selatan adalah Sijageng Laleng Lipa.

Sejarah Si Gajang Laleng Lipa

Sijageng Laleng Lipa adalah salah satu ritual yang sakral dan memiliki peran penting dalam menjaga kedamaian dalam kehidupan Masyarakat bugis di masa lampau, namun saat ini nilai-nilai dalam sijageng laleng lipa dianggap tidak sesuai lagi dengan hukum modern sehingga sudha mulai ditinggalkan dalam kehidupan suku Bugis Moderen. Sijageng laleng Lipa dilakukan dengan cara dua orang pria yang masuk dalam satu sarung kemudian saling adu kekuatan dengan sebilah bading saling menikam satu sama lain sampai salah satu atau keduanya meninggal, pada kondisi tertentu keduanya akan sama-sama hidup jika mereka memiliki ilmu yang membuat Besi tidak akan menggores kulit mereka.

Sijageng lalang lipa merupakan ritual yang dilakukan sebagai solusi jiga terdapat dua keluarag ataupun dua pihak yang berkaitan dengan siri’. Jika kedua belah pihak merasa benar dan tidak mau mengalah maka Sigajang laleng Lipa adalah solusi terakhir yang ditawarkan dengan asumsi setelah ritual ini selsai entah hasilnya mati bersama, salah satunya mati atau keduanya bertahan hidup, maka masalah dari ke dua belah pihak dianggap telah selesai dan haru saling memaafkan.

Musyawarah yang Tidak Menemui Mufakat

Suku Bugis adalah suku yang hidup secara teartur dan memegang aturan-aturan yang telah ada kemudian menjalankan dengan baik. Salah satunya adalah penyelesaian masalah melalui jalur Musyawarah. Suku Bugis adalah suku yang suka berdialog dalam menyelesaikan konflik antara anggota Masyarakat baik untuk kasus besar maupun untuk kasus kecil. Sayangnya tidka semua Musyawarak menghasilkan mufakat terlebih untuk masalah yang masih samar-samar dan adanya pihak merasa paling benar. Jika musyawarah tidak juga berujung pada solusi maka Sigajang Laleng Lipa adalah solusi terakhir.

Sigajangang Laleng Lipa kemudian dipilih sebagai sebuah solusi dimana masing masing pihak menunjukan wakil mereka dengan kesepatakan bahwa apapun hasil yang terjadi setelah sigajang laleng lipa terjadi maka kedua belah pihak tidak boleh dendam atau menyimpan masalah lain lagi. Masyarakat dan Raja akan mengambil alaih dan menjatuhkan hukuman bagi kedua belah pihak yang masih melanggar setelah proses tersebut.

Jalannya Ritual Si Gajang Laleng Lipa

Ritual Sigajang Laleng Lipa tidak dilakukan begitu saja tanpa adanya sebuah ritual dan kesepakatan antara dua belah pihak. Setiap keluarga yang saling berseteru akan memilih satu pria terbaiknya. Pria-pria ini adalah jagoan dari keluarga yang akan mengerahkan semua kekuatannya tanpa berniat untuk menyerah. Prosesinya dimulai dengan menunjukkan salah satu wakil yang dianggap sepadan dari ke dua belah pihak, jika yang dipilih adalah ata, maka pihsak sebelah juga menunjuka orang dengan posisi yang sama. Namun karena yang di bela adalah siri, kaum lelaki suku Bugis dari masing-masing pihak pasti akan terbakar semangatnya untuk ikut membelas harag dirinya sehingga sangat jarang ata ditemukan dalam pertarungan melainkan kepala keluarga atau orang yang paling disegnai dalam kelompok tersebut yang akan maju. Hal ini yang menyebakan kedua pihak akan hidup bersamaan ataupin mati bersamaan karena masing-amsing peimpin biasanya sudah dibekali ilmu kanuragan yang tidak mampu membuat besi atau logam menembus kulit mereka.

Ahmad Dahlan

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 03/03/2017

Disqus Comments