Kampungbugis.com - Gender Dalam Konsepsi Adat Suku Bugis – Sulawesi Selatan.

Beberapa hal yang ada di dalam kehidupan terduhulu dan diterima secara turun temurun kemudian menjadi hal yang umum dikalangan masyarakat. Hal hal tersebut akan bebabur dan menyatu dengan system kehidupan dalam kalangan masyarakat yang dimaksud. Nilai-nilai yang diterapkan tidak statis melainkan dinamis serta senantiasa mengalami penyesuaian dengan kebutuhan dan perkebangan zaman pada masanya sendiri-sendiri, kemudian diwariskan secara turun temurun dan dikenal sebagai adat dan budaya. Tidak ada budaya yang bernilai negatif sebab keberadaan tepat pada zamannya dan diterima, hanya saja beberapa nilai dari budaya tersebut bertentangan dengan hukum modern, adat-adat baru, hukum-hukum dengan ruang lingkup yang lebih luas seperti undang-undang sehingga beberapa budaya kemudian dianggap tabu dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan. Manusia sebagai bagian dari masyarakat mengambil peran dalam melestarikan atau bahkan mengeliminasi beberapa hal yang dianggap sebagai budaya negatif dengan pertimbangan dan akal sehat yang telat dianugerahkan kepadanya.

Mengenal Sistem Gender dalam Kehidupan Suku Bugis

Masyarakat secara umum di seluruh dunia, mengakui keberadaan dua jenis manusia berdasarkan jenis kelaminnya yakni Wanita dan juga pria, namun beberapa daerah di dunia mengalami perubahan dan pergeseran dari nilai tetap berdasarkan bentuk fisik manusia itu sendiri. Kecenderungan yang jika diterima oleh masyarakat akan mendapatkan pemakluman dan searah dengan berjalan waktu akan menjadi bagian dari masyarakat tersebut. Syarin Graham (1998) menyatakan sebuah argumen yang sangat fenomenal tentang penelitian yang dilakukan di Masyarakat. Graham dengan tegas mengatakan bahwa masyarakat suku bugis di masa lalu menerima tidak hanya 2 jenis kelamin melainkan ada lima jenis.

Graham kemudian membuat sebuah laporan dari hasil penelitiannya di Sulawesi Selatan pada tahun 2007 tersebut dengan tema: “Challenging Gender Norms: Five Genders Among Bugis in Indonesia”

5 Gender dalam Suku Bugis

Pengelompokkan dibagi atas dua jenis yakni status biologis (seks) yang terbagi ke dalam tiga kelompok yakni:

  1. Laki-laki,
  2. Perempuan, dan
  3. Hermaprodit dengan lima sistem gender, yaitu
    1. Laki-laki,
    2. Perempuan,
    3. Calabai,
    4. Calalai, dan
    5. Bissu.

Pengelompokan ini didasari dari perbedaan antara seks dan gender. Menurut Graham seks adalah sesuatu yang merujuk pada bentuk biologis yang berkaitan dengan kelamin sedangkan gender adalah suatu sikap yang secara holisitik mempengaruhi individu. Sebagai contoh seorang laki-laki pada umumnya maskulin, sedangkan perempuan adalah mahkluk yang feminism. Konteks yang berbeda di pada suku Bugis adalah adanya Calabai, Calalai dan Bissu.

Bissu

Saidi, seorang Bissu dari suku bugis memberikan penejlasan mengenai jati diri nya sebagai seorang Bissu. Pertanyan seputar gendernya sebagai seorang laki-laki, perempuan atau waria. Saidi menjawab dengan tegas “Tidak nak, Saya ini Bissu. Bissu itu sendiri”. Kalimat itu dijelaskan sembari mengangkat:

  1. Jempolnya sebagai simbol dari laki-laki,
  2. Kelingkingnya sebagai pertanda perempuan,
  3. Telunjuk yang mewakili calabai, waria,
  4. Jari manis yang mewakili calalai, tomboy, dan
  5. Jari tengah sebagai pertanda Bissu yang sendiri.

Bissu adalah keberadaan tanpa jenis kelamin dimana dirinya tidak terikat pada fisik semata melainkan jiwa spiritual yang menghubungakan manusia dengan dewa. Bissu memiliki sebuah tempat yang istimewa di masayarakt suku bugis kuno dan sampai hari beberapa posisi yang ditempati oleh para Bissu tidak dapat digantikan oleh orang lain. Sosok yang dianggap memiliki jiwa laki-laki dan perempuan yang seimbang sehingga secara filosofi dalam pandangan bugis, Bissu mewakili manusia sempurna. Seorang bissu yang lahir dalam raga laki-laki akan secara batiniah adalah seorang wanita dan begitu pula sebaliknya.

Calalai

Calalai adalah seorang yang lahir dengan tubuh seorang perempuan namun mengambil peran dan fungsi seorang laki-laki. Seorang subjek peneltian oleh graham mengambil subjek Rani (Nama Samaran) yang merupakan seorang calalai. Rani memiliki fisik wanita dengan fungsi dan peran yang bukan hanya condong ke arah pria melainkan pria. Kebiasaan mengenakan sarung dengan pakaian laki-laki dan bekerja sebagai pandai besi. Rani sendiri mengadopsi seorang anak dan dianggap sebagai seorang ayah, meskipun dalam hati kecilnya ia tidak ingin menjadi seorang pria, namun sebuah dorongan kuat dan tanpa keinginan membuat melakukan peran dan fungsi sebagai lelaki secara gender.

Calabai

Calabai adalah kebalikan dari seorang calalai. Calalai adalah seorang wanita yang lahir pada sosok pria atau dalam hal ini dikategorikan sebagai waria dengan konotasi negative Bencong. Keseharian dari calalai adalah seorang wanita dengan baju, perangai dan juga kebiasaan seorang wanita. Para calalai sadar dengan bentuk fisiknya yang merupakan seorang wanita namun dorongan calalai tidak bisa dihindari, masyarakat pun secara umum tidak mengakui keberadaanya sebagai seorang wanita.

Berbeda dengan calalai, calabai yang kebanyakan dianggap aib dalam kehidupan masyarakat, namun sanksi adat dan juga hukuman sangat sulit diberikan mengingat pemahaman akan konsep gender yang sulit untuk dilawan. Berbeda halnya dengan Para Bissu yang dianggap sebagai manusia dan penghubung antara dunia manusia dan dewa, posisi Bissu dianggap suci dan cenderung memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat.

Umar Azmar MF

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 03/03/2017

Disqus Comments