Kampungbugis.com - Tradisi Menre Bola Suku Bugis Bagian II.

Setelah upacara persiapan pembuatan rumah dalam upacara Makkarawa Bola pada artiekel bagian I, masih tersisa dua ritual besar yang merupakan rentetan dari upacara Menre Bola. Dua bagian tersebut adalah Mappatettong Bola dan Maccera Bola.

Mappatettong Bola (Mendirikan Rumah)

Sebagaimana tujuan umum dari seluruh rangkaian upacara Menre Bola, Mappatettong bola adalah upacara yang ditujukan sebagai bentuk permohonan do’a restu dari tuhan yang maha kuasa agar rumah yang hendak didirikan terhindar dari gangguan roh-roh jahat yang akan mengganggu kehidupan penghuninya kelak. Selain perlindungi ada harapan yang disisipkan agar kehidupan penghuni rumah mendapatkan keberkahan dan juga ketenangan batin dalam menjalani kehidupan di dalam rumah.

Ritual Mappatettong Bola dilaksanakan para lokasi tempat dimana rumah tepat akan didirikan. Hal ini symbol menyampaikan izi kepada seluruh roh-roh dan penjaga-penjaga yang ada dilokasi dan juga izin untuk membangun sebuah rumah di tepat tersebut sebagaimana lanjutan dari ritual sebelumnya yakni Makkarawa Bola. Sebelum hari pembangunan pertama di mulai, sehari sebelumnya akan diadakan sebuah ritual yang dibawa bersamaan dengan masuknya Islam ke Sulawesi Selatan, ritual tersebut berasal dari negeri Arab yang dibawa pulang oleh para ulama yang datang berguru di Arab Saudi yakni Barazanji. Pembacaan Kitab Barazanji akan disertai dengan beberapa sajian khas yakni Pisang Kepok masak dengan jumlah tujuah sisir yang melambangkan ada tujuh lapis langit, songkolo hitam yang d iatas terdapat telur ayam kampung yang sudah direbus dan beberapa songkolo dengan potongan ayam goreng yang disembunyikan di bagian bawah songkolo. Barazanji akan dilakukan pada malam hari di lokasi pembangunan rumah.

Keesokan harinya, upacara Mappatettong Bola dimulai dengan bahan-bahan yang telah disiapkan lebih dahulu. Adapun bahan-bahan tersebut adalah Sepasang Ayam “bakka’ dua ekor. Hampir serupa dengan Makkarawa Bola, Mappatettong Bola akan membutuhkan darah ayam bakka tadi untuk dioleskan pada tiang pusat rumah, jika pada saat Makkarawa Bola tujuan dari penyembelihan ayam sebagai ganti bahaya yang kelak akan datang, maka pada Mappatetting Bola tujuan dari penyembilahan adalah agar harta, benda, dan kehidupan di dalam rumah berkembang biak atau tumbuh sebagaiman pada saat memlihara sepasang ayam. Darah ayam tadi kemudian dioleskan ke tiang utama rumah yang diletakkan pada bagian tengah yang nantinya ketika rumah sudah dubangun, tepat diatas tiang akan menjadi tempat kumpul keluarga. Tiang rumah bagian ini tidak akan tembus ke lantai dua sehingga ruangan lantai akan lebih lebar dan luas.

Selain upacara pengolesan darah ayam, ada ritual lain dalam rentetan Mappatetng Bola. Beberapa bahan berupa panci tembikar, sung appa (Bagian ujung dari tikar berbahan daun lontar atau daun pandang), balu mabbulu (bakul anyaman), penno-penno (tanaman sejenis umbi-umbian yang menyerupai bawang), kaluku (Kelapa), golla cella (Gula aren), aju cenning (kayu manis) dan buah pala. Seluruh bahan tersebut dimasukkan ke dalam panci tembikar kemudian ditanam pada bagian bawah rumah agar kehidupan sang pemiliki rumah manis seperti semangat dari gula merah dan janna (rasa yang nikmat atau lezat dari santan) yang di tanam di bawah rumah.

Pembangunan rumah kemudian di muali dengan mendirikan seluruh tiang penyangga utama, dibeberapa daerah hanya didirikan empat tiang penyangga saja pada bagian awal. Setelah seluruh tiang penyangga berdiri maka dilakukan ritual pembungkasan bahan-bahan yang terdiri dari:

  • Kaci (Kain kafan) berukuran satu meter
  • Dua ikat padi
  • Golla cella
  • Kaluku
  • Saji Pattapi (Nyiru yang terbuat dari anyaman kelapa)
  • Sanru (sendok besar)
  • Lading (Pisau)
  • Pakker’ri’’ (Alat pengupas kulit halus kelapa)

Seluruh bahan tersebut kemudian bungkus dengan kaci membentuk sebuah bola dengan jumlah ikatan dua kali, yakni masing-amsing diagonal kaling saling mengikat. Setelah itu, bahan tersebut kemudian disimpan di atas sebuah balai-balai dengan dengan Possi bola (Pusat Rumah). Harapan dari bahan-bahan tersebut bertujuan untuk melengkapkan kehidupan dan perabotan yang ada di dalam rumah sedangkan Kaci untuk mengingatkan bahwa suatu saat semua harta akan ditinggalkan bila sudah tiba waktunya sehingga tuan rumah senang tiasa mencari rezeki yang halal untuk melengkapi keperluan rumah tangga.

Setelah upacara tersebut dilakukan, tahap berikutnya adalah Mapanre Aliri atau memberi makan seluruh orang yang iktu terlibat dalam pendirian tiang-tiang penyangga rumah. Makanan utama yang disajikan adlaah sokko yang terbuat dari ketan hitam dan Pallise. Harapnnya tidka lain adalah agar seluruh orang yang tinggal dalam rumah tersebut berkecukupan.

Menre Bola Beru (Naik Rumah Baru)

Ritual selanjutnya di sebut Mere Bola Beru/Baru yang secara harfiah diartikan naik ke rumah baru. Kata naik merujuk pada buaday penggunaan rumah panggung yang digunakanoleh suku-suku bugis. Nama ini masih bertahan hingga hari ini masikupun rumah yang dibangun sudah tidka berbentuk rumah panggung lagi.

Tujuan dari pembangunan rumah baru tersebut adalah bentuk rasa syukur dan juga menyampaikan kepada seluruh tetangga satu desa bahwa rumah yang dibangun telah selesai dan mulai ditinggali. Isi utama dari upacar menre bola adalah memanjatkan do’a dan rasa syukur karena niatan membangun rumah sudha selesai. Adapun bahan-bahan yang disipakan dalam upacara menre bola beru’ adalah :

  • Sepasang ayam kampung berwarna putih
  • Loka manurung
  • Loka panasa
  • Kaluku
  • Golla cella
  • Tebbu (Tebu)
  • Panreng Tase atau Pandang (Nenas yang sudah tua)

Ritual dimulai dengan letakkan seluruh bahan-bahan yang telah disiapkan ditaruh pada tiang utama rumah atau possi bola, kecuali loka manurung yang masing-masing diletakkan dalam sudut rumah. Sang tuan Rumah (suami-Isteri) kemudian membawa masing-masing ayam putih dengan bimbingan sanro bola (dukun atau orang yang dituakan dan paham mengenai tata cara upcara menre bola). Ayam kemudian dibawah naik oleh tuan rumah dan ayam tersebut dilapaskan dari Paladang (teras atas atau balkon). Ayam yang dilepaskan tidak boleh dipotong sebelum usia setahun tepat upacara menre’ bola dilakukan karena dianggap sebagai penjaga rumah baru.

Setelah ritual menre bola dilakukan, acara selanjtunya ada memberikajamuan kepad aseluruh tamu yang hadir dengan pengana dan kue tardisional dengan bahwan utama gula merah atau santan. Adapaun contoh kue-kue tersebut adalah suwella, jompo–jompo, curu maddingki, lana–lana (bedda), konde–konde (umba–umba), sara semmu, doko–doko, lame–lame. Pada malam hari diadakan Sikkiri dan abbarasanji dari kitab barasanji yang dilakukan oleh imam kampung atau orang yang dianggap dituakan oleh tuan rumah. Di beberapa daerah biasanya sengaja mengundang orang dari luar daerah dengan tarekat yang sama dengan tuan rumah dan hal ini tidak pernah dijadikan masalah karean sudah dianggap lumrah. Setelah seluruh tamu pulang, tuan rumah sudha boleh tidur namun hanya boleh tidur di ruang depan bukan di kamar yang etlah disediakan. Hal tersebut boleh dilakukan pada hari esok yakni tidur di kamar sesuai dengan peruntukkannya.

Meccera Bola

Setelah rumah berusia satu tahun, upacara terakhri dari rentetan Menre Boal adalah Meccera Bola. Sebagaimana asal kata dari Maccera Bola yang berari memberi darah kepada rumah, maka ayam kampung sengaja dipotong untuk diambil darahnya. Darahnya kemudian dioleskan ke tiang uatam rumah dengan mantra (Sebagain orang manyatkan sara’) yang berbunyi “Iyyapa uitta dara narekko dara manu”. Kalimat tersebut berarti “tuan rumah hanya akan melihat darah di rumah kalau darah ayam, karena darah ayam berarti baik bukan dari segi magis. Logisnya ketiak ada darah ayam dirumah berarti akan ada daging ayam yang dihidangkan dengan kata lain ada hajatan, bukan bahaya. Meccera bola dipimpin oleh Sanro bola atau panre aju yang mebuat rumah.

Catatan:

Disadur dan ditulis dari beberapa sumber, keterangan dari penggiat menre bola dan juga pengalaman penulis yang juga cucu dari seorang Panre Aju.

Ahmad Dahlan

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments