Kampungbugis.com - Tradisi Memasuki Rumah Baru dari Suku Bugis: Menre Bola Bagian I.

Dalam kehidupan suku Bugis, posisi dari sebuah rumah memiliki nilai yang lebih dari sekedar bangunan tempat manusia tinggal. Terdapat banyak hal yang bersifat filosofi yang melekat pada rumah seperti tempat berlindung, tempat pulang, tempat membesarkan anak dan memelihara keluarga bahkan sebuah nilai yang paling dalam Panggadereng bugis-makassar yang menyatakan rumah adalah tempat “siri” karena kehormatan diawali dari rumah (Bugis: Bola). Dalam kasus ini kehormatan tidak hanya diukur dari segi bangunan fisis dan nilai jual rumah akan tetapi memiliki makna sebagai harga diri. Karena pentingnya fungsi rumah, suku Bugis percaya rumah memiliki jiwa yang akan mempengaruhi kehidupan mahluk yang berdiam didalamnya oleh karena serangkaian upacara adat akan dijalankan mulai dari sejak peletakan tiang pertama (Batu pertama untuk rumah kayu) sampai pada saat rumah tersebut sudah dihuni sekalipun.

Tahapan-tahapan upacara adat Menre Boal terdiri dari banyak prosesi. Prosesi dan upacara adat juag bergantung dari keadaan dan kondisi rumah. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, maka secara garis besar keadaan-keadaan tersebut terbagi atas :

  1. Makkarawa bola;
  2. Mappatettong Bola; dan
  3. Maccera Bola.

Adapun tahapan ritual-ritual tersebut sebagai berikut:

Makkarawa Bola

Secara harfiah Makkarawa Bola terdiri dari dua suku kata yakni Makkarawa yakni kegiatan meraba dengan tujuang untuk memegang yang menggunakan tangan dan bola atau rumah. Makarawan Bola dapat diartikan sebagai suatu proses memulai, mengerjakan dan membuat peralatan rumah yang hendak di bangun. Tujuan dari upacara ini adalah memohon restu dari tuhan agar kiranya seluruh proses pembuatan rumah tersebut dapat berjalan lancer dari awal hingga selesai di bangun. Panre aju (ahli kayu atau tukang bangunan) adlaah orang yang akan melaksanakan upacara ini karena dari tangannyalah peralatan-peralatan tersebut digunakan untuk membangun rumah. Sedangkan waktu yang digunakan untuk melaksanakan prosesi diserahkan kepada Panrita Bola, yang juga bertidak sebagai pemimpin prosesi Makkarawa Bola.

Pada awalnya proses upacara Makarawa Bola dilakukan oleh dukun-dukun tradisional yang sesuai dengan kepercayaan nenek moyang suku bugis dan Sulawesi selatan yakni Talotang, namun setelah islam masuk, terjadi akulturasi budaya dimana beberapa prosesi dalam upacara adat berubah dan disesuaikan dengan ajaran Islam. Dalam upacara Makarawala Bola terdapat beberapa bahan yang harus disiapkan yakni berupa dua ekor ayam, tempurung kelapa dan daun Waru paling sedikit tiga lembar. Tahapan upcara ini kemudian terbagi atas tiga fase yakni:

  • Makkattang – Proses ini ditandai dengan menyerut tiang yang terbuat dari kayu dengan tujuan menghaluskan permukaan kayu yang digunakan dengan ketam.
  • Mappa – Proses ini ditandai dengan melubangi ting sebagai tempat pasak dengan aat yang digunakan adalah pahat atau “Pa”
  • Mappatama Areteng – Proses ini ditandai dengan pemasangan kerangka rumah dalah hal ini tiang penyangga rumah dan atap.

Pada saat penyelanggara dan peserat yang diundang sudah hadir, maka proses pemotongan ayam segera dimulai. Tujuan dari pemotongan ayam tersebut adalam mengambil darah ayam kemudian ditampung dalam teppurung kelapa yang telah dilapisi oleh daun waru. Setelah darah ayam kampung berhenti mengalir, maka darah ayam yang ada pada tempurung kemudian dioleskan ke bahan-bahan yang digunakan tadi. Proses pengolesan dimulai dari tiang pertama yang diletakkan di pusat rumah. Proses pengolesan dapat dilakukan oleh siapa saja yang dituakan atau pemilik rumah itu sendiri, hal yang perlu diiingatkan dalam prosesi ini adalah niat pada saat pengolesan darah agar tuan rumah dan juga “Panre Aju” mendapatkan keselamatan selama proses pembuatan berlangsung, jika saja harus ada korban maka dicukupkan kepada ayam yang telah disebmeblih tadi sebagai gantinya.

Hal unik dari Prosesi Makkarawa

Ada dua hal yang unik dari ritual ini, yakni suguhan kue Onde-onde (umba-umba) dan kue lapis akan selalu ditemukan. Hal ini berkaitan dengan nilai filosofi dari gula dan kelapa yang ada pada Onde-onde memiliki makna yang tinggi karena gula dan kelapa dianggap sebagai pemanis hidup sedangkan kue lapis ditujukan agar kebahagian yang didapatkan oleh tuan rumah juga berlapis-lapis seperti kue tersebut.

Hal unik yang kedua adalah seluruh peserta yang datang hanya mereka yang diundang dengan sengaja oleh tuan rumah. Prosesi pengundangannya pun harus dilakukan oleh tuan rumah sendiri dengan mendatangi rumah orang yang akan diajak mengikuti kegiatan tersebut. Jika seseorang tidak diundang dalam oleh tuan rumah atau hanya diundang melalui orang lain, maka menghadiri prosesi Makkarawa bola akan menjadi “Pammali” yang jika dilakukan dipercaya akan mendatangkan bahaya yang dapat menyebakan darah keluar dari tubuh yang datang tanpa diundang, biasanya kecelakaan atau terjatuh. Oleh karena jika tidak diundang baik tetangga maupun saudara tidak akan menghadiri prosesi ini. Bagi masyarakat awam hal ini tentu saja akan menjadi biang perselihan, akan tetapi dalam kehidupan masyarakt di suku Bugis, hal ini sudah menjadi pemakluman dan bukan suatu masalah.

Ahmad Dahlan

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments