Kampungbugis.com - Mappalili : Tradisi Suku Bugis di Awal Musim Tanam Padi.

Mappalili adalah tradisi suku bugis dalam menyambut musim tanam padi di sawah yang sudah dilakukan secara turun temurun. Diketahui bahwa ritual mappalili telah dilakukan bahkan sebelum Islam masuk di Sulawesi Selatan. Hingga hari ini, tradisi mappalili masih eksis dan prakteknya dapat ditemukan di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, diantaranya adalah PANGKEP (Pangkejene dan Kepulauan), Bone, Soppeng, dan Wajo.

Pelaksana, Perlengkapan, dan Prosesi Ritual Mappalili

Penanggung Jawab/Pemimpin Ritual

Pelaksaan mappalili berawal dari istana, tempat disemayamkannya pusaka berupa bajak sewah. Selain itu, dalam konteks penyelenggaraan mappalili istana juga merupakan titik kumpul 10 bissu yang terlibat dalam prosesi ritual mappalili. Diantara seluruh bissu yang berkumpul tersebut terdapat satu yang terlihat sangat berwibawa, yakni Bissu Puang Matoa yang tidak lain adalah kepala para bissu dan berperan memimpin jalannya ritual mappalili. Bissu Puang Matoa mengenakan pakaian adat khas suku Bugis dengan kemeja bergaris putih berbahan Sutra yang dipadukan bersama kain sarung yang juga berwarna putih dan penutup kepala. Bissu Puang Matoa juga menggunakan Katto-katto dan Kalung-Kalung sebagai perlengkapan ritual mappalili.

Katto-katto adalah sejenis alat yang digunakan untuk memanggil anak laki-laki dengan cara dipukul hingga mengeluarkan bunyi sebanyak tiga kali, sedangkan

Kalung-Kalung adalah alat yang cara pakainya juga dengan dipukul hingga mengeluarkan bunyi tapi digunakan untuk memanggil anak perempuan.

Perlengkapan Ritual

  • Arajang, sebutan untuk pusaka yang digunakan membajak sawah, pusaka ini konon ditemukan melalui mimpi.
  • Pelita dari minyak tanah atau kemiri yang dibalut pada potongan bambu.
  • Beras empat warna. Beras empat warna ini membentuk simbol-simbol di atas daun siri dan mewakili seluruh elemen yang berperan dalam kehidupan manusia dan tanaman. Warna keempat beras tersebut meliputi;
    1. Hitam yang mewakili tanah,
    2. Merah yang mewakili api,
    3. Kuning yang mewakili angin atau udara, dan
    4. Putih sebagai symbol air.

Seluruh perlengkapan yang dipersiapkan pada malam sebelum hari pelaksanaan tersebut kemudian diletakkan diatas altar upacara.

Prosesi Pelaksanaan

Mappalili kemudian dimulai dengan nyanyian ajian dari Bissu Puang Matoa sebagai berikut;

Teddu’ka derna maningo, Gojengnga’ denra malettung-lettunge ri ale Luwu. Meningo ri Watang Mpare

Kubangunkan dewa yang tidur, kuguncangkan dewa yang sedang terbaring, dewa yang berbaring di Luwu, yang tertidur di Watang Mpare

Bersamaan dengan berakhirnya ajian yang dinyanyikan secara fasih oleh Puang Matoa untuk membangunkan arajang tersebut, 9 Bissu lainnya kemudian menanggapi dengan nyanyian ajian lainnya;

Tokkoko mattule-tule, musesae kenning, masilenre-lenre kenning, musisarro lellange, mupaklepo lollange, lollange macukkongngie, Lipu muranrusie

Bangkitlah dan munculah, tamppakkan wajah yang berseri, menari bersaa kami, bersama turun (baring/duduk), bersama bangkit, bersama saling menjunjung, bersaman menyatukan tujuan di negeri yang engkau tempati, tanah tumpah darah

Sekilas Mengenai Arajang

Terdapat perbedaan penggunaan istilah Arajang dari tiap-tiap daerah di Sulawesi selatan. Jika Dipangkep Arajang adalah Bajak Sawah, maka di Soppeng arajang berupa sepasang Ponto’ naga atau gelang berkepala naga yang terbuat dari emas murni, sementara itu untuk daerah Bone dan Wajo arajang berupa Keris.

Kesimpulan

Jika ditengok dari ritual yang dijalankan dapat disimpulkan bahwa kepercayaan terhadap ritual Mappalili di dominasi oleh aliran dinamisme, dimana aliran ini mempercayai bahwa setiap benda memiliki jiwa. Jiwa yang akan selalu membalas apa yang dilakukan kepadanya. Jika baik perlakuan yang diberikan, maka baik pula pemberian darinya, namun jika rusak perlakuan yang diberikan, maka rusak pula balasan yang diberikan. Penggalan kata Dewa merujuk pada kepercayaan asal usul nenek moyang Sulawesi Selatan yang pertama kali turun di Bumi Toppotikka, Luwu. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi ini tidak berasal dari Islam. Kendati pun demikian, dalam perkembangannya terdapat beberapa hal yangmasuk menjadi bagian dalam prosesi mappalili yang mana merupakan asimilasi dari ajaran agama Islam.

Umar Azmar MF

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments