Kampungbugis.com - Bola Soba - Rumah Adat Bangsawan Bugis Watampone.

Salah penciri khusus dari etnis dan Suku Bugis yang mendiami Jazirah Sulawesi Selatan adalah kebudayaannya yang orisinil dan tidak memiliki kemiripan dengan beberapa suku lain yang ada di Nusantara. Dalam hal ini, salah satu perbedaan yang mencolok adalah Rumah Adat suku Bugis Bone yang dikenal dengan nama Bola Soba.

Bola Soba adalah rumah yang didiami oleh para keturuanan raja-raja Bone yang berbentuk Panggung dengan jumlah Tiang yang sangat Banyak. Dari segi desain dan Arsitektur, Bola Soba memiliki kemiripan dengan arsitektur dari Istana Tamalatea yang dimiliki kerajaan Gowa dan dikenal dengan nama Balla Lompoa. Hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh sistem pemerintahan dan pertukaran informasi antara Bugis dan Makassar yang telah terjadi sejak awal pembentukan Etnis Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan. Bola Soba sendiri secar harafiah berarti rumah Persahabatan sedangkan Balla Lompoa memiliki makna rumah Kebesaran atau rumah yang diagungkan.

Bola Soba merupakan bangunan tradisional suku bugis yang berbahan dasar Kayu dan berdiri di atas lahan seluas 5.000 meter. Saat ini lokasi Boal Soba berada di Jalan Latenriatta, Kecamatan Watampone, Kabupaten Bone yang dulunya merupakan pusat pemerintahan kerajaan Bone. Bola Soba masih dapat dijumpai hingga hari ini dengan bentuk dan desain Arsitektur yang masih asli. Hal ini pula yang menandai kemajuan pengetahuan bidang arsitektur dan sipil pada masa lampau. Teknik ukiran, persambungan, dan sistem pasak yang terbilang unik dengan sustem lubang membutuhkan teknik pembuatan yang sangat tinggi jika merujuk pada peralatan yang ada pada akhir abad ke 18.

Suber sejarah menyebutkan bahwa, Bola Soba didirikan oleh Raja ke-30 yang dikenal dengan nama La Pawawoi Karaeng Sigeri di akhir tahun 1890. Tujuan awal pembangunan Bola Soba adalah untuk dijadikan rumah atau kediaman bagi Raja Bone. Sepeninggalan La Pawaoi, Bola Soba kemudian ditinggali oleh anak La Pawawoi yakni Baso Panilingi Abdul Hamid yang selanjutnya dikenal dengan sebutan Petta Ponggawae atau Panglima Perang Kerajaan Bone.

Ekspansi Belanda pada masa tersebut juga menargetkan Sulawesi Selatan sebagai salah satu daerah Stratiegis untuk mendirikan pusat peerintahan kolonial di Indonesia Timur. Kerajaan Bone yang berada di bawah kepemimpinan Petta Ponggawae yang mengalami banyak keterbatasan prajurit dan juga teknologi perang akhirnya harus mengakui kehebatan Belanda. Dampaknya Saorajae (Rumah Raja) Petta Ponggawae ini pun jatuh di tangan Belanda. Kualitas dan posisi yang strategis dari Bola Soba ternyata di akui oleh Belanda, sehingga Bola Soba kemudian dijadikan Markas dan pusat Tentara Belanda di Kabupaten Bone. Pada tahun 1912, Saoraja kemudian dialih fungsikan sebagai mes dan tempat penginapan para tamu istimewa dari Belanda, sehingga nama dari Saoraja kemudian di rubah menjadi Bola Soba’ atau Rumah Persahabatan.

Bentuk Fisik dan Dimensi dari Bola Soba

Bola Soba memiliki dimensi panjang dengan ukuran 39,45 meter yang terbagi ke dalam 4 bagian utama yakni

  1. lego Lego (teras) dengan panjang 5,60 meter,
  2. rumah induk dengan panjang 21 meter,
  3. lari-lari atau salasar yang menghubungkan rumah Induk dan bagian belakang rumah sepanjang 8,55 m, dan
  4. dapur sepanjang 4,30 meter.

Pada bagian dinding terdapat ukiran berupa daun dan kembang yang mencirikan kesenian Islam pada abad ke 18 di Sulawesi Selatan dengan gabungan Model Banji yang diperkenalkan oleh suku Tionghoa di Indonesia.

Sampai saat ini, Bola Soba sudah mengalami 3 kali pemugaran besar yang merubah posisinya atau berpindah Lokasi. PAda awalnya Bola Soba berada di Jalan Petta Ponggawae yang saat ini menjadi lokasi pendirian rumah jabatan Bupati Bone. Karena hal tersebut, Bola Sob akemudian dipindahkan lagi ke Jalan Veteran dan pada tahaun 1978, Bola Soba dipindahkan oleh Daoed Joesoef yang satat itu menjabat sebagai Menteri Nalam Negeri ke Jalan Veteran dan diresmikan pada tanggal 14 April 1982.

Sebagai salah satu bentuk cagar budaya, Bola Soba kemudian dipugar oleh Pemerintah Indonesia melalui dinas kebudaya dan Pariwisata Kabupaten Bone dan Provonsi Sulawesi Selatan. Pemugaran dilakukan dengan tujuan mengembalikan bentuk asli dari Bola Soba ke bentuk awalnya, namun meskipun demikian usaha tidak dapat dilakukan seratus persen sehingga ada beberapa bagian yang beruabh dari bentuknya disertai dengan bentuk ukiran yang berbeda dari ukiran aslinya.

Ahmad Dahlan

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/23/2017

Disqus Comments