Kampungbugis.com - Sejarah Singkat Kelahiran Dan Perkembangan Kerajaan Bone.

Kerajaan Bone adalah salah satu kerajaan tertua yang terdapat di Sulawesi Selatan. Bukti-bukti sejarah baik yang disampaikan secara turun temurun dan juga yang tertera sumber sejarah berupa tulisan menununjukkan bahwa kerajaan Bone ada sejak sekitar tahun 1330, namun sebelum kerajaan Bone terbentuk sudah banyak ditemukan beberapa kelompok kecil. Kelompok-kelompok kecil ini di pimpin oleh orang-orang yang diberi gelar Matoa.

Kedatangan To Manurung Mata Silompo'e maka persatuan antara sebagian besar kelompok akhirnya terjadi. Kelompok-kelompok termasuk kelompok dari China, Awangpeno, Barebbo dan juga Palakka. Dengan terangkatnya To Manurung Mata Silompoe' sebagai raja pertama Bone, Rakyat dari seluruh kelompok bersupah untuk setia dan tunduk pada sang Raja dan menjadi kejadian yang menandai berdirinya kerajaan Bone.

Adapun Bunyi sumpah dari Rakyat adalah:

Angikko kiraukkaju, riyakommiri, riakkeng mutappalireng, elo'mu elo rikkeng adammukua, mattampako kilao, mamolliko kisawe, mellauko kiabbere, mauni anammeng napattarommeng rekkua muteyaiwi kiteyatoi, naekiya dongirikkeng temmatippang, ampirikkeng temmakare musalipurikkeng temmadinging

Arti dari sumpah bermakna :

Engkau angin dan kami dedaunan, kemana berhembus kesitu kami menurut, kemauan dan kata-katamulah yang jadi dan berlaku atas kami. Apabila engkau mengundang, kami datang, apabila engkau memanggil, kami menyambut, dan apabila engkau meminta kami memberi walaupun anak isteri kami jika tuanku tidak senangi, kami pun tidak menyenanginya. Tetapi engkau menjaga kami agar aman tentram, engkau melindungi kami agar makmur sejahtera, engkau selimuti kami agar tidak kedinginan.

Sumpah adalah suatu bentuki penyerahan kekuasaaan rakyat kepada Raja, rakyat secara sukarela memberikan kepercayaan kepada sang Raja. Selain mendapatkan kekuasaan, sang Raja juga mendapatkan kewajiban untuk memimpin, melindungi dan menjaga keadilan dari kehidupan rakyat di seluruh wilayah kerajaan.

Pada awal pemerintahan di kerajaan Bone, sistem pemerintahan dijalankan dengan melalui cara Musyawarah untuk mendapatkan kata mufakat. Musyawarah ini dalam pengawasan dari Matoa Enneng yang terbentuk dalam majelis dan di ketuai oleh To Manurung. Ke tujuh aspek ini disebut sebagai Kawareng atau ikatan persatuan Tanah Bone yang memegangan sistem pemerinatahan kerajaan. Sistem Kawareng bertahan di kerajaan sampai Raja Bone ke IX yang dipimpin oleh Lapattae Matinro'e Ri Bettung yang berkuasa pada akhir abad ke 16.

Raja Bone X yang berada pada tahta Tenritappu Matinro'e ri Sidenreng kemudian menganut agama islam. Perubahan ini juga membawa perubahan dari sisi Kawareng dengan sebutan Matowa Pitu yang menjadi Ade' Pitu. Majelis ini masing-masing diwakili oleh: Ponceng, Ta, Tanete Riattang, Tanenre Riawang, Ujung, Tibojong dan Ponceng.

Sejalan dengan waktu, pada masa kepemimpinan Raja Bone XI, aga,a islam di jadikan sebgaia agama resmi kerajaan dan Islam berkembang sangat cepat di Bone dan menjadi penganut Islam yang taat dan fanatik. Hal serupa juga terjadi pada raja Bone XII yakni La Tenri Pale Matinro'e ri Tallo serta La Maddaremmeng Mentinro'e ri Bukaka sebagai raja Bone XIII.

Dalam perkembangan kerajaan dan peristiwa masuknya VOC ke nusantara untuk berdagang, beberapa utusan Belanda mencoba menemui Raja, namun ditolak karena pihak kerajaan sudah mengetahui niat buruk dibalik kedatangan Belanda ke Nusantara. Kedatangan VOC ditengari oleh keinginan mengusai sumber ekayaan alam dan melakukan monopoli dagang di jalir lintas perdagangan pelabuhan Bajoe dan Palime dan ikut campur dalam mengatur bea cukai serta administrasi perdagangan kerajaan.

Kegagalan VOC dalam mengambil kekuasaan perdagangan melalui jalur diplomasi membuat kekecwaan yang sangat besar di sisi Belada dan akhirnya pecah perang antara Rakyat dan Belanda. Tiga Batalion tentara Belanda yang dilengkapi dengan senjata modern di masany aykani Meriam melancarkan serangan di Pantai. Laskar Bone yang tidak dilengkapi dengan senjata lengkap kewalahan menghadapi gempuran Bealanda, namun kegigihan perang dalam hati lebih besar dari letupan meriam.

Setelah dua hari menghadapi gempuran senjata modern dari pasukan Belanda, Laskar Bone akhirnya mundur dan Panglima Perang Ajangale beserta para punggawa perang akhirnya gugur. Raja Bone beserta panglima tertinggi angkatan perang Abdul Hamid atau Baso Pagilingi Petta Pongwae akhirnya dipkas mundur kegunungan di Bulu Awo, Pitungpanua Wajo. Melihat lascar Bone mundur, pihak VOC melakukan pengejaran kemudian berakhir dengan perang. Laskar Bone yang sudah kewalahan dari awal akhirnya kalah telak dan berakhir pada gugurnya Petta Pongawae di Desa Matuju, Awangpone.

Kekalahan telak ini membuat raja Bone XXXI, Lapawowi Karaeng Sigeri tertangkap dan ditahan di Pare-pare. Selang beberapa lama, Karaeng Sigeri diasingkan ke Bandung dan wafat di Bandung. Tahun 1974 kerangkan dari Karaeng Sigeri dipindahkan ke Taman Makan Kalibata di Jakarta. Jatuhnya kerajaan Bone dikenal dengan peristiwa Rumpan'na Bone pada tahun 1905. Peristiwa ini kemudian membuat kerajaan Bone mengalami kekosongan kepemimpinan selama 26 tahun lalu Andi Mappanyukki dinobatkan sebagai raja XXXII yang bergelar sultan Ibrahim.

Dalam masa kepemimpinan Andi Mappanyukki, Bone dipimpin dengan berani dan tidak menerima perintah dari pemerintahan Hindia Belanda seperti yang telah terjdi selama 26 tahun kekosongan kepemimpinan di Bone. Andi Mappanyukki memberikan sumbangsih besar kepada Bone dan Indonesia terutama pada tahun-tahun menjelang kemerdakaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Andi Mappanyukki tidak berhenti sampai ke Kemerdakaan Indonesia saja, pasca proklamasi kerajaan Bone dibawah kekuasaan Andi Mappanyukki menyatakan berdiri dan menudukung Pemerintah Republik Indonesia dan berdasarkan permufakatan dari Ade' Tujua Andi Pabbenteng Petta Lawa di pilih menjdi raja Bone XXXIII

Tahun 1950 adalah tonggak besar di sistem Pemerintahan Kerajaan Bone yakni terjadinya tuntunan dari rakyat Bone untuk dibubarkannya Negara Indonesia Timur dan menyatakan Diri untuk berdiri di belakang Pemerinatah Republik Indonesia. Tanggal 21 Mei tahun 1950 dibentuk suatu Komite Nasional Indonesia daerah Bone yang secara Legislatif menyerahkan Pemerintahan Kerajaan ke Kepemritahan Negara Republik Indonesia hal kemudian disusul oleh peristiwa permohonan pengunduruan diri Ade' Pitu untuk berhenti.

Umar Azmar MF

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments