Kampungbugis.com - Sejarah Masuknya Agama Islam di Sulawesi Selatan.

Masyarakat Sulawesi Selatan sudah lama berhubungan dengan Islam, bahkan sebelum Islam menjadi agama di wilayah itu. Para pelaut dan pedagang Bugis dan Makassar berhubungan dengan pedagang yang kebanyakan adalah muslim di sepanjang pantai utara dan daerah barat jawa serta selat Malaka, dan dengan Ternate di Maluku (yang mengadakan perjanjian persahabatan Kerajaan Gowa). Ditambah lagi suatu pemukiman masyarakat Melayu Islam telah bermukim di Kota Makassar sejak pertengahan abad ke-16, dan Raja Gowa menyambut kehadiran mereka dengan membangun sebuah masjid untuk mereka. Tetapi, daerah itu baru diislamkan pada tahun 1605, setelah Raja Gowa sendiri, proses pengislaman juga terjadi dikalangan penasihat raja.

Penduduk di daerah tersebut berhubungan tidak hanya dengan Islam, melainkan juga dengan agama Katolik Roma lewat para pedagang ini. Orang-orang Portugis yang tinggal di Makassar, dan perubahan ke agama Katolik Roma terjadi disana, juga di sebelah utara di daerah Suppa. Orang-orang Melayu Islam di Makassar, banyak diantaranya telah melarikan diri dari Malaka ketika kota itu jatuh ke tangah Portugis pada tahun 1511.

Datangnya Ulama/Pemuka Islam ke Sulawesi Selatan

Orang-orang Melayu islam kerap memberi peringatan agar waspada terhadap intrik-intrik dan maksud-maksud tersembunyi orang Portugis. Besar kemungkinan mereka jugalah yang memprakarsai kedatangan ulama-ulama Islam datang ke Makassar, guna mengimbangi kegiatan orang-orang Portugis dalam menarik masyarakat setempat memeluk agama Katolik Roma. Beberapa ulama dan pengikutnya tiba di Makassar pada akhir abad ke-16. Mereka adalah:

  • Orang-orang Minangkabau dari Kota Tengah, Sumatera Barat, tempat kelahiran sejumlah orang Islam Makassar, dan
  • Anggota dari Perhimpunan Chalawatijah di Indonesia yang beraliran sufi ortodoks.

Rombongan ulama dan pengikutnya ini berjasa mengislamkan Raja Gowa beserta paman dan penasehatnya, raja dari Kerajaan Tallo yang berkaitan. Sejak saat itu perkembangan Islam berjalan sangat pesat di sulawesi selatan.

Proses Pengislaman Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan

Raja Gowa mengeluarkan seruan kepada para penguasa kerajaan lain agar menerima agama Islam. Seruan itu dikatakan telah didasarkan atas persetujuan, bahwa setiap penguasa yang menemukan suatu jalan baru, dan lebih baik, berkewajiban memberi tahu para penguasa lainnya mengenai penemuannya tersebut. Tetapi hanya kerajaan-kerajaan kecil yang memberi tanggapan positif.

Perang Suci Kerajaan Gowa

Kerajaan Gowa yang khawatir akan diperbaharuinya persekutuan Bone, Wajo, dan Soppeng terhadapnya kemudian menyatakan perang suci. Kerajaan-kerajaan yang menolak masuk islam tersebut akhirnya takluk dan secara berangsur-angsur menerima Islam.

  • Soppeng memeluk islam pada tahun 1609,
  • Wajo memeluk islam sejak tahun 1610, dan
  • Bone memeluk agama islam pada tahun 1611.

Selanjutnya hanya daerah-daerah pegunungan terpencil seperti Toraja di daerah pedalaman tengah, Bawakaraeng, dan Lompobattang yang tetap di luar lingkup Islam.

Dengan demikian Sulawesi Selatan secara resmi masuk Islam, jalan ini ditempuh bahkan dengan perang jika diperlukan. Ini merupakan perubahan kepercayaan masyarakat dari atas ke bawah, dan Islam masih tetap berkaitan dengan bangsawan setempat. Perlindungan kerajaan penting tidak hanya pada awal perubahan kepercayaan, melainkan juga dalam perluasan agama baru itu berikutnya.

Pasca Pengislaman

Ulama dan pengikutnya yang berasal dari Minangkabau kemudian mendirikan pesantren, dan murid-murid mereka meneruskannya dengan mendirikan sekolah-sekolah baru. Para penguasa setempat bertindak sebagai pelindung bagi sekolah-sekolah tersebut. Masjid-masjid didirikan di kota-kota, dan mushala di desa-desa. Kadi ditunjuk untuk hadat dan penguasa, tempat mereka bertindak sebagai hakim pengadilan agama (syariah). Imam (pengurus masjid) ditunjuk untuk wanua (masyarakat adat); dan guru (Anrong-Guru atau Anre-Guru) merupakan baik guru yang menyiarkan agama baru itu ke desa-desa maupun pejabat terendah dalam hierarki administrasi Islam. Guru menjadi anggota cabang pengadilan agama yang dikepalai Imam. Sanak kerabat kerajaan atau para bangsawan tinggi biasanya diangkat ke kedudukan Kadi dan Imam. Agaknya, tidak ada ulama di sini, seperti halnya Kiai di Jawa, di luar hierarki pemerintahan. Dengan demikian, tidak ada perbedaan antara Aristokrat kerajaan dan para pemimpin Islam.

Tampaknya, sejak semula masyarakat Sulawesi Selatan memenuhi kewajiban ritual Islam dengan taat, bahkan belakangan digambarkan fanatik. Apapun kedalaman pengertian mereka mengenai ajaran-ajaran agama tersebut. Seorang pengunjung Prancis yang berkunjung ke Makassar pada masa itu berkomentar:

...tidak bisa dibayangkan, dengan ketetapan apa orang-orang Makassar menjelaskan tugas-tugas yang diperintahkan oleh agama baru mereka.

Proses Akulturasi

Perkembangan Islam yang cepat di Sulawesi Selatan dipermudah dengan kenyataan bahwa aliran Islam sufi yang bersifat mistiklah yang dibawa oleh ulama Minangkabau dan pengikutnya tersebut. Kesesuaian aliran sufi yang bersifat mistik dengan kepercayaan-kepercayaan yang sudah ada sebelumnya di Indonesia sudah sering dikemukakan, dan Sulawesi tidak merupakan perkecualian. Kepercayaan-kepercayaan yang lebih lama dan bersifat animistik pada kekuatan pembawaan makhluk, yang hidup dan mati, dan kekuatan benda-benda (terutama batu, sebagaimana di banyak tempat di Asia Tenggara) terus dipertahankan oleh banyak orang, dan upacara-upacara yang mencerminkan kepercayaan ini dan pengaruh agama Hindi-Budha kemudian, masih terus dilaksanakan sampai jauh hingga abad ke-20.

Tidak ada pemutusan yang tajam dengan kepercayaan dan kebiasaan lama karena orang memilih dari agama baru itu yang sama-sama yang tampak sesuai atau meyakinkan bagi mereka. Islam memberikan alternatif terhadap cara-cara biasa untuk melakukan sesuatu. Terkadang ajaran Islam menggantikan apa yang telah dilakukan sebelumnya, kadang-kadang peraturan baru dikesampingkan, dan kemudian terciptalah sebuah sintesa baru dlam perjalanan pengaruh agama dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Swlatan. Dengan jalan ini kebiasaan dan kepercayaan Islam bercampur dengan apa yang sudah ada, dan bagian-bagian dari hukum Islam menjadi satu dengan praktek yang sudah lazim berlaku.

Sulawesi Selatan Setelah Memeluk Islam

Di Sulawesi Selatan, Islam telah berjasa dalam membatasi kekuasaan tidak terbatas para raja, yang membuatnya lebih mudah bagi masyarakat umum untuk mendekati mereka, dan menerapkan sedikit keluwesan dalam peraturan-peraturan kelas untuk perkawinan. Kendati pun demikian, adat adalah kewenangan terakhir, karena adat-lah (pada hakikatnya adalah dewan adat) yang dapat memperkuat atau membatalkan keputusan pengadilan agama oleh Kadi. Kadi dan Imam lebih sering berperan sebagai penasihat dibanding anggota hadat. Hal ini disebabkan oleh status mereka yang pada umumnya masih sanak keluarga penguasa, seringkali mereka lebih memperhatikan keinginan-keinginannya daripada aturan-aturan hukum Islam.

Menjelang awal abad ke-20 terdapat suatu sistem pengadilan Islam yang luas di Sulawesi Selatan, dengan yurisdiksi atas persengketaan yang mencakup perkawinan, perceraian, dan pewarisan. Tetapi, hukum yang mereka gunakan merupakan campuran dari hukum Islam dan hukum adat.

Ahmad Dahlan

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments