Kampungbugis.com - Penetapan, Penggunaan dan Pemberian Gelar Bangsawan dalam Suku Bugis dari Masa ke Masa.

Kesepakatan adat dan ucapan keputusan raja atas pertimbangan dewan adat adalah dua hal yang menjamin kebebasan berkelompok dan mengeluarkan pendapat masyarakat bugis dulu. Kedua hal ini juga merupakan dasar yang digunakan dalam musyawarah adat untuk mencapai mufakat, yang mana dalam penerapannya dapat berupa:

  1. Hasil keputusan tudang sipulung,
  2. Saran dan pendapat peserta rapat adat,
  3. Pengajuan usul melalui Daeng Kalula (koordinator kelompok), dan
  4. Keputusan rapat adat yang disetujui oleh pemangku adat (raja).

Daeng Kalula dan Wilayah Kepemimpinannya

Pasca era To Manurung Mattasi Lompoe - Raja Bone I, dimana pada masanya terjadi penggabungan kelompok-kelompok masyarakat yang berada pada wilayah-wilayah lompo, distrik, atau kampung pada wilayah kota tua bone, masyarakat bugis (khususnya bugis bone) dalam berkelompok dipimpin oleh seseorang yang digelar daeng Kalula. Sebagai perwakilan semua wanua (kelompok) yang dipimpinnya, seorang daeng Kalula dapat mengusulkan pendapat lewat tudang sipulung (rapat adat). Berikut ini adalah keterangan beberapa wilayah wanua yang dipimpin oleh seorang daeng Kalula:

Bone Tenga

Kelompok bone tenga (bone tengah) yang terdiri dari:

  1. Cina (nama salah satu wilayah kota tua Bone, saat ini menjadi nama kecamatan di kabupaten Bone, Sulawesi selatan),
  2. Barebbo,
  3. Awangpone, dan
  4. Palakka (kecamatan Palakka).

Pitu Mattendung Tanre ri Ajangale

Pitu Mattendung Tanre ri Ajangale meliputi wanua:

  1. Mampu,
  2. Bengo,
  3. Sailong,
  4. Amali, dan
  5. Timurung

Anang Takka

Wanua yang termasuk dalam Anang Takka meliputi:

  1. Gona,
  2. Salomekko,
  3. Bulu Tana,
  4. Abbumpungeng,
  5. Tarasu, dan
  6. Kajuara (selatan).

Lima Mpanua ri Laukale

Lima mpanua ri Laukale meliputi wanua:

  1. Unra,
  2. Mattuju, dan
  3. Jaling

Pitu Wanua Kampong

Pitu Wanua Kampong terdiri dari kampung:

  1. Palakka (Palakka),
  2. Camming,
  3. Ceppaga,
  4. Libureng,
  5. Sappiulo,
  6. Cempaniga, dan
  7. Gottang.

Selain dari 5 kelompok tersebut diatas terdapat beberapa daerah lain yang dalam rapat adat diwakili langsung tanpa daeng Kalula. Beberapa wanua yang memiliki perwakilan langsung dalam tudang sipulung tanpa dipimpin oleh seorang daeng Kalula tersebut dikenal dengan nama Lima mpanua ri Ajangale, terdiri dari:

  1. Otting,
  2. Ulo,
  3. Palongki,
  4. lanca, dan
  5. Tajong

Era Pemberian Gelar Bangsawan

Pada masa pemerintahannya, Raja Bone ke XVI Lapatau Matanna Tikka Matinroi ri Naga Uleng (1696 - 1714) mengusulkan dalam tudang sipulung pembuatan diagram atau sertifikasi terhadap masyarakat bone. Usulan ini kemudian diterima dan menghasilkan kesepakatan yang dalam penerapannya berupa pemberian gelar bagi keturunan anak raja atau anak pattola, dan rakyat biasa.

Klasifikasi Gelar Bangsawan Suku Bugis (Bone)

Klasifikasi dalam diagram gelar bangsawan tersebut ialah sebagai berikut:

  • Anak arung matasa (bangsawan asli)
    Anak atau turunan dari perkawinan antara ibu bapak yang sederajat, nilainya tetap sama seperti ibu bapaknya, terdapat 2 jenis bangsawan dalam klasifikasi ini:
    • Anak pattola (putra-putri mahkota)
    • Anak pattola bangsawan asli tapi bukan putra putri mahkota.
  • Anak arung yang bukan anak pattola atau bangsawan asli
    Perkawinan yang terjadi antara bapak dan ibu yang sederajat atau sama tingkatan dari masing masing tingkatannya, maka keturunannya tetap sama dengan derajat ibu-bapaknya.
    • Anak Rajeng yaitu anak yg lahir dari bapak berderajat anak pattola (bangsawan asli) dan ibunya berderajat anak cipue (anak separoh) atau anak cerak.
    • Anak Cipue (cerak ciceng) atau bangsawan separuh, yaitu anak yang lahir dari bapak berderajat anak pattola (bangsawan asli) dan ibunya anak merdeka/biasa.
    • Anak Cerak dua, anak yang lahir dari bapak berderajat anak cipue atau cerak ciceng dan ibunya orang merdeka/biasa.
    • Anak Cerak tellu, anaknya lahir dari bapak berderajat cerak dua dan ibunya orang merdeka/biasa.
    • Anak Cerak eppa, anak yang lahir dari bapak berderajat cerak tellu dan ibunya orang merdeka/biasa.
      Diluar tingkatan yang dimaksud (cerak lima dan seterusnya) termasuk dalam kategori to deceng, klasifikasi ini meliputi:
    • To Mardeka (orang merdeka)
    • To Deceng (orang baik baik)
    • To Sama (orang biasa)
    • Ata (sahaya)
    • Ata Manasu atau Ata Mana (sahaya warisan)
    • Ata Mabuang (sahaya baru)
      Penjelasan selanjutnya tentang ata (sahaya) pada peraktek dan kenyataannya tetap ada dalam sebutan, namun dalam prakteknya telah dicabut/dihapuskan sejak masuknya agama islam di kerajaan bugis bone, sekali lagi, penghapusan atas usul dewan adat (ade' pitu).
  • Anak Karung, anak raja raja
  • Anak Manrapi yaitu ibu dari kasta golongan yang tingkatannya/derajatnya menurun
  • Kali/qadhi, Tokoh agama semisal khatib dan bilal, seseorang dengan gelar petta kalie dan petta imang.

Selanjutnya, pemberian gelar tergantung pada tingkat derajat kebangsawanan dari bapak, tingkat kasta keturunan (abbatireng). Andi diberikan gelar bagi keturunan anak pattola, atau bapak anak pattola.

Makna gelar bangsawan dikalangan masyarakat bugis khususnya bone

Gelar andi dikalangan bugis bone tidak kita dapatkan dalam pembahasan atau keputusan dalam rapat adat (tudang sipulung) di era pemerintahan Lapatau Matanna Tikka bahkan sampai pada pemerintahan raja ke 33 Andi Pabbenteng Petta Lawa Matinroe ri Matuju. Nama gelar andi, petta, daeng atau gelar-gelar lainnya yang biasa digunakan keturunan anak bangsawan bugis kita tidak bisa dapatkan dalam lontara maupun dalam sertifikasi gelar keturunan bangsawan dari daftar asal usulnya. Begitupun dalam literatur tentang pemberian gelar andi, kita tidak bisa menemukan kata gelar andi, petta, daeng, dsb. Tetapi kita bisa mengambil kesimpulan atas pendapat pendapat tokoh bugis makassar seperti:

  1. Pendapat tokoh bugis bone sekaligus, sebagai tokoh idola dikalangan tentara nasional indonesia yaitu bapak mayor jenderal purnawirawan angkatan darat bapak Andi Mattalatta bahwa asal usul gelar andi adalah pemberian belanda kepada anak-anak arung (anak keturunan bangsawan) atau anak pattola, agar dapat membedakan antara bangsawan terpelajar dengan to sama atau to mardeka, orang biasa ataupun sahaya.
  2. Menurut pendapat tokoh idola, pakar sejarah, budayawan bugis, yaitu bapak Prof. Dr. Mattulada bahwa penggunaan gelar andi di mulai dari tahun 1930, oleh para kepala swapraja dan keluarga bangsawan untuk memudahkan identifikasi keluarga anak raja. Para anak raja dahulu tidak pernah menggunakan nama depan sebagai tambahan gelar andi melainkan gelarnya bila anak bansawan laki laki diberi gelar la, dan anak bangsawan jenis kelamin wanita diberi gelar we. Sementara gelar bangsawan didaratan tanah bugis makassar menggunakan gelar opu, daeng, karaeng, arung, bau, atau puang.
  3. Menurut pendapat tokoh politik bone era tahun 70an, yang juga seniman dan sejarawan bugis bone yaitu bapak mayor purnawirawan angkatan darat H. Andi sebbu, bahwa pemberian gelar andi, petta, daeng adalah berasal dari bahasa lamakkaraseng (bahasa setara). Bahasa lamakkaraseng digunakan setara dengan pemberian nama atau gelar keturunan (abbatireng) bagi bangsawan bugis makassar, toraja dan mandar. Misalnya :
  4. Pemberian gelar Sultan bagi keturunan bangsawan suku makassar seperti Sultan Hasanuddin, sedangkan pemberian gelar bagi keturunan anak bugis bone disetarakan pemberiannya dengan gelar Sulewatan. Gelar la atau sultan disetarakan dengan la atau arung bagi keturunan bangsawan bugis yaitu la seperti Lapatau Matanna Tikka dan Arung Palakka, dan bangsawan wajo Lamaddu'kelleng.
  5. We ummu datu larompong anaknya Payunge ri Luwu Matinroe ri Tompotikka disetarakan dengan pemberian gelar bangsawan wanita di daratan bugis bone seperti Raja Bone wanita, Raja Bone ke X Wetenri Tappu Matinroiee ri Sidenreng.
  6. I mariama karaeng pattukangan, i gumintiri siti asia karaeng ri gowa dan disetarakan gelar anak bangsawan bugis bone bagi jenis perempuan yaitu Iyalu Arung Apala Eppona Arung Pone Matinroe ri Malimongen.
  7. Bangsawan bugis makassar juga diberi gelar setara dengan Opu ri Luwu, karaeng suku makassar arung ri bone, soppeng dan pinrang. Puang ri tator (puang sangalla)
  8. Pengertian gelar petta, petta dalam bahasa lamakkaraseng disetarakan dengan kata upetta. Kata upetta diuraikan dalam kalimat upeta muna idi pabbanua nasaba engka muannen mua i sanre nasalewangen pabbanuae diberikan gelar kepada seseorang yang telah berjasa pada satu wanua disetarakan dengan Andi, daeng atau puang dan juga dapat diberikan keturunan bangsawan yang telah menikah.

Kesetaraan Pemberian Gelar

Sombayya ri Gowa, Mangkau ri Bone, Payung ri Luwu

Andi artinya adik atau muda dikenal dalam bahasa panggilan bagi suku makassar setara dengan panggilan Andi atau Daeng di Bone, juga sama setara panggilan Andi atau Daeng di Luwu. Tetapi panggilan gelar Abbatireng di Bone, seperti Arung, Petta, Andi, Daeng, Puang, Cerak (ciceng sampai lima), Kadhi, Kalie, Katte, To sama disepakati di era pemerintahan Raja Bone ke XVI Lapatau Matanna Tikka setelah masuknya islam ditanah Bugis Bone atas usul kelompok-kelompok Kalula sebanyak enam kelompok, yang diusulkan atas persetujuan dewan adat.

Demikian telusuran jejak kota tua bone tentang Gelar Andi (khususnya pada suku Bugis Bone). Demikian Pa'guriseng Silsilah keturunan bangsawan bugis bone. Di era sekarang pemberian gelar andi, karaeng, petta, puang, daeng dan lain-lain yang tidak memiliki silsilah keturunan (panguriseng) dapat dilakukan atas usul rakyat dan dirapatkan di depan dewan adat serta pengukuhannya didepan pleno DPR. Atas jasa jasa seorang yang telah disumbangkan kepada daerah, dalam bahasa bugis:

Engkapa bate la na

Engkapa bate lima na

Engka topa bate pakkita iyarega engka taneng taneng cokkona riala tanra.

Bahram Sebbu

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments