Kampungbugis.com - Dinamika Kehidupan Kota Tua Bone (Penelusuran Lompo Barangjangan, Coppomeru, dan Appasareng).

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam artikel Penelusuran Lompo, Jejak Kota Tua Bone artikel ini adalah lanjutan berupa reportase penelusuran lompo di kota tua Bone yang terdiri dari pembahasan 3 lompo sekaligus (Barangjangan, Coppomeru, dan Appasareng). Langsung saja, silahkan simak pembahasannya dibawah ini:

Lompo Barangjangan

Lompo Barangjangan adalah wanua tempat melintasnya barang dagangan dari perkampungan ke kota watampone. Lompo barangjangan terletak di bagian selatan kota Bone. Sepanjang jalur sungai, dari jembatan jalan Jenderal Ahmad Yani kelurahan Jeppee menelusuri arus aliran sungai kelurahan Macege sampai pada jembatan jalan Biru kelurahan Biru saat ini.

Batas wilayah

  • Sebelah utara berbatasan dengan kampung lassonrong,
  • Sebelah selatan berbatasan dengan kampung bottoe,
  • Sebelah timur berbatas dengan kampung matajang, dan
  • Sebelah baratnya kampung lanlongka.

Wanua atau lompo barangjangan adalah kampung salewangen, yang makmur karena memiliki sawah yang luas. lompo ini juga terbilang indah karena memiliki ladang nyiur di sepanjang aliran sungai, masyarakatnya damai, aman, sejahtera, dan hidup dalam penerapan prinsip sipakatau, sipakainge, sipatuwo sipatokkong yang baik. Sejak era tahun 50an sampai saat ini lompo baranjangan dianggap sebagai kampung yang paling aman jika dibanding kampung lain. Hal ini erat kaitannya dengan makna nama lompo ini sendiri:

Barang adalah barang dagangan, dan Jangan adalah larangan

Lompo ini dikenal sebagai kawasan yang bersih dari peredaran barang terlarang semisal minuman keras, senjata tajam dan kepemilikan senjata api (bagi masyakat yang tidak memiliki izin). Tentara nasional yang dikenal sebagai tentara jawa (siliwangi) ditempatkan bertugas mengamankan lompo saoraja diperbatasan lompo barangjangan. Dengan demikian wajar kalau Barangjangan dikenal sebagai wilayah bebas dari perdagangan barang terlarang. Selain tentara siliwangi, masyarakat bone juga mengenal pasukan Andi Lantara yang mengamankan wilayah Bone, saai ini bermarkas di MAKODIM 1407 Bone. Pos operasi pasukan Andi Lantara ini berpusat di kantor pajak lama, kantor sosial dan sekitar penginapan Tirta Kencana.

Pada wilayah lompo Baranjangan juga terdapat perumahan perwira yang sekarang beralamat di seputaran jalan hati riang, andalas dan besse kajuara. Perumahan perwira tersebut dahulunya pernah ditempati, Mayor Puton, Mayor Syamsuddin, Mayor Saleh, Mayor Andi Sebbu, Perwira Polisi Umar Saleh, Ka Perhubungan Darat, dan orang-orang ternama lainnya. Peninggalan inilah menjadi bukti sejarah bahwa lompo baranjangan adalah lompo teraman dari semua lompo di kota tua Bone.

Lompo barangjangan sekarang ini sudah sirna di telan masa, berubah menjadi kawasan sentral ekonomi masyarakat Bone. Pusat pertokoan baru setelah kota Bone lama, aktifitas kuliner di sore dan malam hari. Paska perpindahan pasar baranjangan ke pasar sentral baru di Bulu Tempe, pasar baranjangan yang sudah tidak beraktifitas saat ini hanya menjadi kenangan masa lalu. Mudah-mudahan pemerintah daerah Bone mendatang dapat memprioritaskan program pengembangan perpaduan lokasi pasar rakyat, dan menghidupkan kembali aktifitas ekonomi di lompo Baranjangan.

Lompo Coppomeru

Lompo joppo meru adalah wilayah kota bone yg berada dipinggir batas wilayah bone bagian timur, dengan batas wilayah:

  • Timur berbatasan dengan lompo Woddi (bagian wilayah pemerintahan kelurahan watampone),
  • Sebelah selatan berbatasan dengan lompo Jeppee dan Lallongka,
  • Sebelah barat berbatasan dengan lompo Pinra dan lompo Teppoe (kelurahan Macanang saat ini), dan
  • Sebelah utaranya berbatasan dengan lompo Caloko dan Mallajena (kelurahan Welannae sekarang).

Arti nama

Coppo dalamm bahasa bugis berarti diatas, sementara meru dalam bermakna menarik dipandang mata (asal kata: paeru, artinya menarik,tertarik - paeru atau nagala pakkita).

Jaman dahulu bone adalah tumpukan tanah berpasir berbentuk lappa padangen (tanah lapang). Coppomeru adalah wilayah tertinggi dari semua lompo di kota tua Bone. Setara dengan lompo Bukaka yang berada kurang lebih 300 meter diatas permukaan air laut.

Dari atas pintu air coppomeru, semua wilayah kota tua di Bone dapat terlihat. Nampak jelas hutan bambu di lompo Lassonrong, aktfitas kegiatan masarakat di lompo Accule Culeng (lapangan merdeka dan lapangan persibo), kegiatan pemerintahan di lompo Saoraja, aktifitas masyarakat di areal persawahan wilayah lompo Ta, dan lompo salekoe, dan kegiatan mayarakat mengelola abbatang (pembuatan batu merah) di Bukka. Lompo Coppo meru sendiri terbentang luas areal persawahan sampai ke lompo pinra, macannang. Air teppoe menjadi sumber air kehidupan menelusuri sungai Salokaee menuju Coppomeru, Baranjangan, Matajang sampai ke Barebbo, saluran pintu air coppomeru menuju Bukaka dan berahir di Panyula, dapat dibayangkan keindahan alam lompo Coppo meru dahulu.

Inilah arti dan makna coppomeru: ketika kita berada dicoppomeru, Bone terlihat indah dan menawan. Kota tua Bone, dikelilingi aliran sungai, terbentang sawah ladang yang menguning, aktifitas masyarakat terlihat dikala siang.

Luas areal persawahan coppomeru kurang lebih 30 ha, kehidupan masyarakatnya bertani, hal ini didukung oleh keberadaan bendungan air yang memiliki tiga pintu sebagai suplai kebutuhan air petani Bone dan sekitarnya. Di tahun 60an bendungan kecil Coppomeru adalah tempat permainan anak anak jikalau ingin belajar berenang, bermain di pintu air, bersorak silih berganti melompat dan menepi di pintu air dan bendungan kecil. Sekarang rupanya masyarakat sudah lupa dgn kebiasaan ini. Karena pembangunan pelayanan air bersih di kota bone sudah mencapai 60 persen dan beralih ke badan pengelola air minim ditahun 1986, dan seterusnya berubah pengelolaannya ke perusahaan daerah air minum sampai hari ini.

Kegiatan masyarakat coppomeru lainnya adalah kegotong-royongan bersatu merantai tangan melakukan perbaikan jalan gunung Rinjadi yang tidak pernah mendapat perhatian pemerintah sampai pada saat ini. Talud jalan gunung Rinjadi sepanjang kurang lebih 40 meter telah runtuh dan sampai pada saat ini belum juga ditangani oleh instansi yang berwenang. Kabarnya masyarakat sudah pernah melaporkan ke dinas TARKIM (Tata Ruang Pemukiman dan Perumahan) pada 25 mei 2016 tentang kerusakan tersebut, namun sampai saat ini masih belum mendapat perhatian.

Boleh dibayangkan bahwa jalan gunung Rinjadi yg ada diwilayah pinggiran kota Bone adalah satu lompo yang tak terpisahkan dgn lompo kota bone. Lompo ini menjadi wilayah tertinggal dibanding lompo lain, sejak kemerdekaan. Masyarakat Coppomeru belum menikmati cahaya sinar lampu jalan untuk menerangi lompo Coppomeru yang sarat nilai historis budaya bugis di Bone. Dahulu telah banyak memberikan kehidupan mayarakat bone terhadap petani yang membutuhkan air. Jalan dibiarkan rusak tak terbenahi hanya mengharapkan mayarakat setiap tahun melakukan perbaikan secara bersama sama.

Ketika malam tiba, gelap gulita menghias lompoku namun dilompo lain menikmati cahaya sinar lampu berlebihan, sementara aktifitas malam ronda masyarakat Coppomeru tak berakhir demi menjaga ternak, sawah dan ladangnya. Pengembangan pembangunan perumahan disaat ini makin maju, berkurangnya wilayah persawahan dijadikan lokasi perumahan, pesanteren, sehingga tak bisa lagi memandang indahnya kota bone dikala terbitnya sinar matahari pagi, dan terbenamnya matahari sore. Maklum saja, mengingat maju pesatnya pembangunan kota, semoga kenangan yang kota tua Bone tisak terlupakan sehingga dapat mengambil hikmah dari semuanya.

Ininnawa madeceng, natepu bate lima tinulu laku laku nalete,i dalle pole dewata,e mappabbettu bate lima,napapole wassele teng maggangka matasa paddissengen narupai bate la


Memiliki jiwa yg baik menjadikan hasil karya yg baik pula, rajin kerja tak jenuh, dirahmati oleh allah swt. Menyelesaikan hasil karya tangan menyelesaikan hasil tak terbatas dan sebanyak apapun ilmu yg anda miliki sebanyak itu pula reski yg anda dapatkan

Lompo Appasareng

Lompo Appasareng atau kota lama terletak diseputaran jalan beringin, jalan serigala, jalan veteran dan memutar kejalan dua jalur koanda tanah Bangkalae.

Batas wilayah

sebelah utara berbatasan dengan lompo masiji, baratnya lompo toko, sebelah timur lompo koanda tanah bangkalae dan selatannya lompo sekolah balanda.

Mengenang kembali lompo appasareng adalah tempat atau kampung jual beli barang sandang pangan hasil produksi pertanian rakyat masyarakat kota bone dulu (pasar pertama kota tua bone). Namun sekarang sudah mengalami banyak perubahan. Tidak jauh dari lompo Appasareng aktifitas masyarakat Bone berdagang di waktu malam di lompo Tanah Koanda tanah Bangkalae difungsikan menjadi pasar jongkok, atau pasar seribu pedagang.

Pasar Sumpang Tellue

Lompo appasareng dulu dikenal sebagai pasar sumpang tellue (pasar tiga pintu). Pintu pertama di depan warkop Beringin di jalan Beringin, Pintu kedua, di belakang alfa midi (saat ini), berhadapan dengan patung badik di jalan makmur, dan pintu ke tiga dibelakang warkop Gemilang berhadapan toko Ramah tugu Koanda.

Perubahan pembangunannya sangat pesat, berawal dari pemerintahan H. Suaib sampai pemerintahan sekarang bapak H. Andi Baso Fahsar Mahdin Padjalangi. Perubahan pembangunan lompo appasareng sangat dinikmati masyarakat Watampone saat ini. Pembangunan toko dagang dan ruko, jalan dua jalur, perubahan pembangunan tugu lingkar di jalan makmur menjadi tuguh badik, dipertigaan jalan koanda didepan toko Ramah berdiri dengan megah sebuah tugu air mancur, pembangunan pemindahan Rumah Tanah bangkalae digeser ke timur menambah maraknya pembangunan seputaran pasar lama kota Bone. Namun penempatannya sedikit menghalangi pengguna jalan, pembangunan tugu air mancur di jalan simpang tujuh, bangunan gerbong kereta api koanda berubah fungsi menjadi jalan dua jalur, sebagian tanah bangkala berubah menjadi lokasi permainan anak anak di malam hari. turut meramaikan kehidupan kota bagi masyarakat bone hadirnya warung kopi dari semua sudut jalan lompo Appasareng, keseluruhannya menjadikan lompo ini ramai dikunjungi masyarakat baik disiang hari maupun di waktu malam tiba.

Kenangan Lompo Appasareng

Pasar ini (lompo Appasareng) banyak meninggalkan kenangan masa lalu, seperti:

  1. Di ahir tahun 60 an pasar ini biasa dijadikan kegiatan pasar malam, saksi hidup seniman bapak H. Muksin Alatas dan Hj. Titik Sandora dengan lagu tembang kenangannya Mari Bermain Tali, pernah berdendang dipasar ini. Cici Cumbalaka, Evi Tamala dan masih banyak lagi artis kenangan Indonesia yang pernah menghiasi panggung seniman lompo Appasareng.
  2. Masih di ahir tahun 60 an, sumpang tellue appasareng riolo berdiri megah bangunan pos polisi berdampingan dengan bangunan rumah tahanan kecil yang diperuntukkan bagi pelanggar-pelanggar hukum saat itu. Rumah tahanan ini dinamakan sel kandang macan. Asal mula dari sebutan sel kandang macan berawal dari sini karena ruangannya sangat kecil hanya berukuran dua kali dua meter persegi, sangat sempit. Sejatinya rumah tahanan tersebut dijadikan kandang macan tapi difungsikan sebagai sel tahanan. Pada era pemerintahan H. Suaib rumah tahanan ini dibongkar dengan alasan pengembangan kota. Akhirnya di pemerintahan H. Andi Idris Galigo pada lokasi yang sama dibangun pos lantas untuk area lompo Saoraja, inilah yang bertahan sampai sekarang. Betapa pentingnya penempatan pembangunan pos-pos polisi, karena diharuskan berdekatan dengan keramaian seperti di Appasareng riolo, pembangunan pos polisi ditempatkan dekat dengan pasar dan keramaian untuk memantau secara dekat kemungkinanterjadi hal hal yang melanggar hukum.
  3. Di apit oleh gedung bioskop sebagai tempat aktifitas masyarakat bone di waktu malam tiba. Pada akhir tahun 60an yaitu bioskop Watampone yang berada di bekas kandang bendi dan kuda Patteke (jalan Serigala sekarang), bioskop terletak disudut pertigaan jalan veteran dua jalur dan jalan dua jalur ke lompo masiji (masjid raya Watampone).
  4. Bangunan gerbong kereta api adalah kenangan mesra bagi seniman-seniman bone kala itu, masih di era akhir tahun tahun 60 an. Tempat ini dulu adalah tempat berkumpulnya para seniman Bone, tempat pelatihan kegiatan sanggar seni tari dan drama. Tempat ini masih digunakan latihan persembahan drama seni, pentas tari kabupaten Bone, persiapan pentas seni Pallette dan persembahan tari kolosal To Malaweng, serta lomba baca puisi Bone kelabu dalam sorotan fatamorgana oleh bapak Andi Baso Amir di fase pemerintahannya.
  5. Kebiasaan masyarakat kota bone,melakukan solat 5 waktu di masjid raya yang berada di perbatasan lompo Appasareng dan lompo masiji. Terutama sehabis solat subuh biasanya berbondong-bondong mampir di gerbong kereta api, karena disitu juga tempat beraktifitas masyarakat menjual sup, pengnge, sokko bampa, dan sokko pipi. Pada bulan ramadhan kegiatan serupa lebih ramai dari bulan lainnya, solat taraweh berpusat di masjid raya watampone, pulang solat tarwih para jamaah mampir di bangunan gerbong kereta api mencicipi jualan dagangan masyarakat sehabis berbuka.
  6. Rumah sahabat ( bola soba ) turut menjadi catatan kenangan masa lalu. Rumah sahabat adalah rumah para pejuang mempertahankan negara kesatuan republik indonesia, kehadiran bola soba dari perpindahan dari saoraja ke lompo masidji menambah aktifitas kenangan masa lalu.
  7. Menurut penjelasan bapak H. Andi Bennu Ase Petta Sau yang juga sebagai saksi hidup dan pelaku pedagang di Appasareng lama, pasar kota lama watampone sudah beberapa kali mengalami perpindahan lokasi. Awalnya (setelah lokasi pembangunan rumah toko) dipindahkan ke jalan bajoe (lompo manurunge) di simpang empat jalan Manurunge-jalan Bajoe. Di tahun 70 an pasar tersebut dipindahkan lagi ke Baranjangan, pada akhir tahun 90 an awal tahun 2000 an pasar baranjangan dipindahkan lagi ke pasar sentral bulu tempe Palakka.

Demikian telusuran kampung bugis bone tentang lompo appasareng, semoga bermamfaat buat kita semua sekali gus mengenang kota bugis bone masa lalu. Menunggu episode selanjutnya tentang lompo rilaleng benteng dan lompo saoraja.

Eppa mua rupanna padecengi tana, iami nagenne lima narekko narapi mani asselengennge nari pattama tona sarae seuwwani adee, maduanna rapangnge, matellunna warie, maeppana bicarae, malimanna sarae. Naiyya sarae nennia adee padecengiwi to maegaee, naiyya rapangnge iyyana tu pewatangiwi arajange, naiyya warie, iyanaritu passekkewi assiajingenna tanae massiajingnge, naiyya bicarae iyyana ritu sanresenna to madodongnge na malempu narekko tenripogau ni adee, masolang tonitu tau maegae.


Hanya empat macam hal untuk memperbaiki suatu negara dan barulah dicukupkan lima ketika syariat islam diterima, pertama ade, kedua rapang, ketiga wari, keempat bicara, dan kelima sara (syariat). Adapun ade itu adalah mengatur dan memperbaiki rakyat, rapang itu adalah yg mengokohkan kerajaan, wari itu adalah memperkuat kekeluargaan bernegara, adapun bicara itu adalah memagari perbuatan kesewenang-wenangan, dan adapun syara ialah sandaran orang lemah dan jujur. Bila ade itu lagi tak ada atau tidak dipelihara lagi, rusaklah kehidupan bermasyarakat tentang kedaulatan rakyat.

Bahram Sebbu

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments