Kampungbugis.com - Lasinrang, Legenda Pendekar dari Sawitto.

Jika anda jalan-jalan di kota dan kabupaten di Sulawesi Selatan, mungkin anda pernah menemukan nama jalan Lasinrang (disambigu: La Sinrang). Tidak banyak orang yang mengetahui makna di balik nama jalan tersebut karena kurang pengetahuan dan rasa ingin tahu dari masyarakat Sulawesi Selatan akan kearifan lokanya sendiri, namun artikel ini ditulis sebagai artikel rintisan untuk menelusuri jejak para pahlawan Sulawesi Selatan.

Lasinrang adalah salah satu pejuang dari suku bugis yang berasal dari Pinrang. Beliau adalah seorang pemimpin pemuda di tanah addatuang Sawitto (setara dengan kerajaan kecil atau kasuwiyang) yang melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Beberapa sumber tertulis menyebutkan bahwa Lasinrang lahir sekitar tahun 1856 kemudian wafat di usia 80 tahun yakni tahun 1936 sebelum Indonesia merdeka. Usianya yang panjang menunjukkan kehandalan dan kemampuan perangnya yang sangat tangkas, mengingat pada zaman tersebut pemerintah colonial Belanda atas nama negara Hindia Belanda sangat semena-mena dengan kerajaan lokak sehingga tidak banyak pemimpin yang mampu bertahan hidup lebih dari 40 tahun. Beberapa raja yang membangkan terhadap Belanda, haru sberkahir tragis salah satunya adalah Sultan Hasanuddin yang usianya tidak cukup 30 tahun sebelum akhirnya meninggal di tangan Belanda.

Kehandalan Lasinrang dalam berperang dan konon dibekali ilmu kanuragan membuat Belanda kepayahan untuk menaklukannya secara jantan di medan perang. Sejarah mencatatkan Belanda hanya mampu menaklukkan lawan-lawan perkasa mereka dengan taktik yang keji dna terkesan pengecut. Addatuang Sawitto dan Istrinya I Makkanyuma yang tidak lain adalah orang tua dari Lasinrang ditahan dan dijadikan sebagai sandera agar Lasirang mau menyerahkan diri.

Karena keperkasaan dan kegigihan dari Lasinrang, warga Pinrang mengabadikan namanya sebagai nama Jalan-jalan di sudut kota Pinrang bahkan hampir diseluruh wilayah di Sulawesi Selatan, selaian nama jalan nama Lasinrang juga menjadi nama beberapa gedung, rumah sakit umum daerah Pinrang dan juga patung berbulu emas yang beridiri kokoh di pusat kota Pinrang menjadi bukti bahwa beliau memiliki perang penting dalam usaha perjuangan kemerdekaan.

Lasinrang

Lasinrang lahir pada tahun 1856 dari keluarga dan pembesara kerajaan Sawitto. Lasinrang lahir dengan nama lengkap Petta Lolo Lasinrang yang tidak lain putra dari La Tamma. La Tamma sendiri sendiri adalah Addatuang Sawitto. Lasinrang di lahirkan disebuah kota kecil yang berjarak sekitar 17 km dari ibu kota Pinrang, desa tersebut bernama Dolangeng. Ibu Lasinrnag sendiri tidak berasal dari keturunan raja, yakni I Raima yang juga berasal dari desa yang sama. Bayi dari I Raima ini lahir dengan tanda kelahiran dimana bulu dadanya sudha uncul dengan kesitimewaaan yakni bulu dadanya tumbuh berlawanan arah yakni dai atas ke atas (bulu sussang).

Sebagaiman dengan para keturunan raja lainnya, Lasirang mendapatkan bimbingan dan pengajaran dari ahli piker dan penasehat kerajaan yang sangat berpengaruh di wilayah kerajaan. Penasehat yang tidka lain adalah pamanya sendiri yakni saudara dari I Raima menempa Lasinrang menjadi seorang yang tangkas bertarung, berwibawa dan yang terpeting adalah memiliki nilai-nilai kejujuran dalam hidupnya. Hal ini adalah dasar yang baik yang dimiliki Lasinrnag sebagai calon penggati raja kelak yang tidak lain ayahnya sendiri.

Lasinrang kecil menghabiskan masa-masa kanak-kanaknya dengan bermain sebagaiman anak lain seusianya. Status anak raja tidak membatasinya dalam bergaul dan tetap bermain permainan rakyat yang terkenal pada zaman dahulu seperti Maggasing (Gasing tradisional dari kayu yang dimainkan dengan cara dilempar), Mallogo, Massaung dan sejenisnya, namun diantara sekian banyak permainan yang digemari ada satu yang menajdi hobi yakni Massaung.

Massaung atau sabung ayam merupakan salah satu kebiasaan masyarakat di Indonesia sehingga menjadi bagian dari budaya. Lasinrang sangat menyukai Massaung bahkan dirinya memiliki manu bakka, jenis ayam dengan bulu berwarna putih dengan bintik merah pada bagian dada yang melingkar. Jenis ayam sangat jarang ditemukan. Kegemaran Lasinrang massaung bahkan sampai keluar daerah sehingga ia dikenal dengan nama “Bakka lolona Sawitto” yang secara harfiah dapat diartikan sebagai pemuda berani dari Sawitto. Julukan ini semakin melekat dengan Lasirang, terlebih saat dirinya menyatakan perang dan melakukan aksi perlawanan terhadap Belanda.

Sebagai seorang anak raja dan calon penerus tahta, Lasinrang tentu saja harus menimbah ilmu yang banyak baik itu segi perang maupun sosial oleh karena Lasinrang muda yang masih lajang melakukan perjalanan ke Pammana dan tinggal untuk beberapa waktu di daerah tersebut. Selama di Pammana, Lasinrang melakukan banyak aktivitas yang mencolok untuk menarik perhatian orang sampai akhirnya Datu Pammana menanyakan asal-usul dari pemuda yang tidak lain adalah anak dari Addatuang Sawitto.

Datu Pammana kemudian mengajarkan banyak kepada Lasinrang karena dianggap berasal dari kerajaan yang sedarah. Lasinrang banyak dibekali ilmu perang dan ditempa menjadi ksatria yang pemberani. Lasinrang juga menikahi du awanita ketika di Pammana yakni Indo Jamarro dan Indo Tang, dari perniakahn tersebut Lasinrang mendapatkan dua buah hati yakni La Koro dan La Mappanganro.

Lasinrang muda yang penuh semangat untuk mengaplikasikan ilmu perangnya kemudian tidak dapat mengontrol perilakunya. Di Sawitto Lasinrang membuat kegaduhan dengan mengajak kerajaan Suppa, Alitta, Binanga Karaeng, Maddalo, Cempa, JampuE, dan Rubbae serta seluruh kerajaan kerajaan kecil yang ada di sekitar Sawitto untuk berperang, jika mereka tidka mau maka kerajaan tersebut dianggap kekuasaan Sawitto. Lasinrang yang tidak bisa dikendalikan oleh orang apalgi dengan kepandaian perangnya akhirnya tumbuhnya menjadi bebal. La Tamma, Ayah Lasinrang, kemudian mengirim Lasinrang ke Bone agar mendapatkan pendidikan dari kerajaan Bone, namun tidak bertahan selama setahun, Lasinrang kemudian membunuh salah satu pegawai Istana yakni Pakkalawing, Epuna Arungpone. Karena Statusnya sebagai putra Addatuang sawitto, Lasinrang tidak berikan hukuman berat dan terpaksa dipindahkan ke Wajo.

Kekuasaan Belanda yang semakin melebar di wilayah Sulawesi Selatan kemudian membuat pecahnya perang di kerajaan Sawitto. Serangan dari Tentara Belanda yang semakin hebat membuat La Tamma tidak berdaya dan memanggil kembali anaknya, La Sinrang untuk memimpin perang melawan Belanda. La Sinrnag yang memang terkenal hebat dalam bertempur tentu saja menunjukkan aksi yang luar biasa di hadapan Belanda. Meskipun hanya bersenjatakan Badik dan Tombak, namun kekuatan La sinrang ternyata jauh di atas perhitungan Belanda. La Sinrangyang gigi bertempur dengan La Salaga, tombak besar berbentuk seukuran dayung, dan keris yang diberi na JalloE’ kemudian tidak mampu ditaklukkan Belanda.

Sebagaimana yang telah tercatan dalam Sejarah, La sinrang berhasil ditankap oleh Belanda. Namun pengakapan tersebut tidak disebabkan oleh kekuatan Belanda menaklukkan Lasinrang, akan tetap akal bulus menyandera Ayah dan Istrinya. Lasinrnag diancam akan kehilangan Ayah dan Istirnya melalui siksasaan jika tidak menyerahkan diri. Lasinrang akhirnya menyerahkan diri karena tidak berdaya melihat orang tuanya dalam pesakitan Belanda dna akhirnya Lasinrang diasingkan ke Banyumas. Setelah lanjut usia dan dianggap tidak bisa lagi memimpin perang, Lasinrang kemudian dipulangkan dalam keadaan tua dan sakit. La Sinrang kemudian wafat pada tanggal 29 Oktober 1938 dan dimakamkan di Ammassengeng.

Umar Azmar MF

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments