Kampungbugis.com - Kisah Hidup Arung Palakka III.

Arumpone Bone

Apakah anda kenal dengan cerita Kerajaan Ingris yang masih berdiri hingga hari ini ?, Sejarah kemegahan kerajaan Inggris tidak hanya diisi oleh para kesatria pemberani tapi juga memiliki sejarah kelam penjajahan. Salah satu tokoh yang muncul sebagai penjahat bagi Kerajaan Ingris adalah William Walace, namun bagi penduduk Wales dan Skotlandia, William Walace tentu saja sosok pahlawan yang rela mati demi membebaskan rakyatnya dari penjajahan yang dilakukan oleh Bangsawan Inggris.

Arung Palakka adalah pengganti dari raja Bone yakni datu Mario ri Wawo XV, yang tidak lain ibunya sendiri. Arung Palakka tentu saja tidak diangkat begitu saja karena memiliki garis darah raja akan tetapi namanya terkenal di rakyat Bone setelah berhasil membebaskan Rakyatnya dari penjajahan yang dilakukan oleh kerajaan Gowa-Tallo. Arung Palakka diakui oleh Belanda sebagai Arung Pattiro, Palette dan Palakka di Bone serta mendapatkan gelar sebagai Datu Mario ri Wawo Soppeng, Bantaeng dan juga Bontoala pada tahun 1670.

Salah seorang pemerhati sejarah bernama Andayya tidak memandang kisah Arung Palakka sebagai penghianat yang dengan senang hati membantu Belanda menjajah Nusantara tanpa ada sebuah harga yang lebih mahal yang dipertaruhkan oleh Arung Palakka. Andaya menitik beratkan kajian pada kerelaan Arung Palakkan bersekutu dengan VOC dan memerangi saudaranya sendiri di Kerajaan Gowa yang sedang berada pada masa kejayaan sebagai salah satau kerajaan Maritim terkuat di Nusantara pada abad ke 17.

Jawaban dari pertanyaan tersebut tidak disebabkan oleh persaingan Ekonomi di wilayah bagian barat laut Nusantara yang telah terjadi perebutan Gowa dan VOC sampai akhirnya perang Makassar tahun 1666-1669 pecah sebagaimana yang telah diyakinil oleh para sejarawan lokal. Andaya yakin bahwa alasan ekonomis dan Politis bukanlah penyebab perang saudara tersebut, melainkan “Pangaderreng” yang meliputi Siri'. Panggadereng adalah nilai adat dan budaya yang dipegang tegus oleh suku Bugis yang teridiri dari:

  1. Siri’ yakni perasaan harga diri malu,
  2. Pace perasaan tenggang rasa atau perasaan empati yang mendalam dari sakit dan pedih yang dialami rakaytnya, dan
  3. Sare’ yang ini kepercayaan berupa takdir yang diemban oleh setiap orang untuk melaksanakan tugas yang telah diberikan sebagai dirinya yang merupakan seorang keturunan raja maka sudah menjadi takdir Arung Palakka adalah membebaskan rakyatnya.

Ketiga hal tersebut adalah tatanan nilai yang sudah mendarah daging bagi seluruh rakyat yang hidup di Sulawesi selatan. Kajian sejarah yang tidak disertai dengan kajian adat serta budaya yang berkembang pada masa tersebut tentu saja tidak menghasilkan alur yang terang. Andaya percaya bahwa nilai dari siri’, pacce’, dan sare’ adalah aspek pertimbangan yang sangat adil untuk digunakan dalam menganalisis serta mengevaluasi kejadian sejarah di Sulawesi Selatan pada masa lampau. Hal ini pula yang menjadi penyumbang terbesar yang menjadi Polemik pada abad ke 16 dan 17 di Sulawesi Selatan dimana Arung Palakka Adalah seorang Pahlawan bagi rakyat dan kerjaan Bone serupa dengan William Walace, namun jika William Walace harus berkahir tragis sebelum kemerdakaan ia dapatkan, Arung Palakka berada di sisi lain dimana ia berhasil memenangkan pergulatan.

Arumpone

Arung Palakka lahir pada tahun 1635 di Lamatta, Mari ri Wawo dan merupaka seorang pewaris tahta kerajaan Bone, Konflik bersaudara antara Gowa dan Bone tak terhindarkan dan membuat Bone mengalami kekalahan, saat itu Arung Palakka masih berusia 8 tahun. Pada usia 11 tahun, Arung Palakka beserta keluarga dibawa sebagai tahanan Politik di Istana Gowa. Sebagai tahanan politik sedarah maka Arung Palakka diberi bekal yang sama dengan keturunan Raja lainnya oleh Karaeng Pattinngaloang yang terkenal arif. Dibawah asuhan karaeng Pattingalloang, Arung Palakka tumbuh menjadi sosok yang gagah dan berani dan dibekali kemampuan beladiri serta strategi perang yang sangat baik.

Meskipun tumbuh di Istana Gowa dan telah bergaul bebas dengan para pemuda Makassar, namun siri’, pace, dan sare sebagai pewaris tahta kerajaan Bone tidak hilang dari dalam dirinya, terlebih setelah melihat penderitaan rakyat yang terjajah membuat luapan emosi dalam hati Arung Palakka tidak dapat dibendung. Ditengah derita yang ia saksikan, Arung Palakka kemudian mengumpulkan prajurit-prajurit yang setia kepadanya dan melakukan perlawanan namun kalah dan terdesak. Perlawanan harus berhenti sampai tahun 1660 dan Arung Palakka harus meninggalkan Sulawesi Selatan ke Batavia bersama pengikutnya yang setia. Dengan bantuan VOC, di Batavia Arung Palakka berdiam di muara kali Angke.

Malang-melintang di Batavia dengan kemampuan yang luar biasa, Arung Palakka hanya membutuhkan waktu lima tahun untuk mendapatkan kepercayaan dari VOC. Misi pertamanya meredam pertempuran di Minangkabau berhasil dan membuatnya menjadi salah satu jagoan kepercayaan VOC. Perasaan nasib yang dialami dengan Cornelis Speelman dan juga Kapitan Jonker membuat ketiganya menjadi sulit terkalahkan hingga akhirnya tiba saat yang tepat untuk mengembalikan kebebasan suku Bone.

Andaya menyebutkan bahwa Arung Palakkalah yang menjadi aktor utama dalam perang Makassar dan ekspedisi VOC ke kerajaan Gowa. Speelman bertempur untuk mendapatkan tepatnya kembali di VOC setelah diberhentikan jadi Gubernur sedangkan Arung Palakka dengan misinya sendiri. Tidak ada alasan yang lebih baik dari Arung Palakka untuk menampakkan kembali wajahnya di Makassar selain untuk mebela Siri’ dalam darahnya. Bagi suku bugis, mati untuk memulihkan siri’ jauh lebih mulia dibandingkan Hidup dengan kekuasaan di Batavia namun tanpa siri’. Kepulangan di Makassar ternyata membuatnya sukses menaklukan Benteng Somba Opu. Arung Palakka kemudian mendapatkan kembali Kerajaan Bone dalam keadaan bebas dan menjadi Arumpone menggantikan ibundanya kemudian melanjutkan hidup sebagaimana mestinya seorang raja.

Umar Azmar MF

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments