Kampungbugis.com - Kisah Hidup Arung Palakka II.

Persekutuan Tiga Penakluk

Lelaki gagah berambut gonrong dengan badan kekar berotot berdarah bugis yang namanya Batavia, suatu kampung yang jauh dari tempat kehalirannya membuat Arung Palakka menjadi jagoan yang sangat cepat terkenal baik di kalangan pribumi maupun Belanda dalam hal ini komunitas dagang di bawah naungan VOC. Sosok Arung Palakka bahkan digambarkan memiliki pandangan yang sangat tajam dan menyala, berjalan di antara kampung-kampung di Batavia dengan sebilah Badik yang mampu mengeluarkan seluruh isi Jeroan dari lawannya. Arung Palakka berpindah ke Batavia sejak tahun 1660 bersama seluruh pasukan yang setia kepadanya untuk mendapatkan kebebasan dari kekuasaan kesultanan Gowa dalam hal ini Sulatn Hasanuddin. Hubungan keduanya sangat dekat pada masa kecil dan remaja yang juga dikenal dua pendekar satu guru, yakni Karaeng Pattingaloang sang Gallarang Tumailalang ri Gowa.

Persatuan Orang-orang Terbuang

Batavia pada penghujung abad ke-16 merupakan belantara yang hanya mampu dikuasai oleh mereka yang kuat. Ketangkasan dalam ilmu beladari seakan menjadi legalisir atas kekuasaan seseorang. Pada masa-masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan Maetsueyker, hukum rimba adalah hukum tertinggi setelah hukum yang dibawah oleh VOC yang juga ditegakkan dengan kekuatan serta paksaan. Orang-orang kecil yang memiliki kekuatan besar kemudian dimanfaatkan oleh pemerinatah kolonialisme sebagai sekrup yang digunakan untuk memperkokok kekuatan di Nusantara. Pada masa ini adalah sebuah titik balik dari kisah perjuangan hidup Arung Palakka dari yang terbuang menjadi yang memimpin sebagai bentuk panggilan alamiah yang mengalir dalam darah bangsawan bugis di nadinya.

Sebagai seorang yang sedang terasing, Arung Palakka menyimpan semangat juang yang menggebu di dalam sanubarinya untuk memerdekakan suku Bugis Bone dari kebebasannya yang terbelenggu. Meskipun memiliki semangat yang keras, kebebasan tersebut tidak akan mungkin didapatkan dengan kekuatan sendiri. Hal ini menjadi semakin berat ketika Gowa kala itu (akhir abad ke 16) adalah kerajaan dengan kekuatan maritime terbesar di Nusantara. Setelah lama di Batavia, nama Arung Palakka mulai di kenal dan kekuatannya semakin besar terutama ketika bertemu dengan salah satu tokoh terasing dari Ambon Kapiten Jonker, dan Cornelis Janszoon Speelman yang dibuang karena kegagalannya dalam menjalankan tugas dari VOC. Persekutuan ketiga orang yang memiliki nasib yang sama dan bergerak untuk mengembalikan harga diri masingimasing tersebut membuat trisula Batavia jadi tidak terbendung.

Aliansi tiga tokoh tersebut menjadi momok yang menakutkan bagi jawara Batavia pada masa lalu, Speelman sendiri adalah mantan pejabat di VOC yang terbuang karena kedapatan melakukan perdagangan gelap pada saat menjabat sebagai Gubernur di Coromandel pada tahun 1665, Arung Palakka adalah tawanan politik kerajaan yang memberontak dan melarikan diri ke Batavia bersama pengikutnya kemudian bermukim di pinggiran kali Angke, oleh sebab itu para prajurit Bone menyebutnya to Angke'.

Kapiten Jonker adalah panglima person yang berasal dari pulau Manipa, Ambon. Jongker memiliki banyak pengikut namun Jonker tidak mendapatkan pengakuan dari para penguasa pada masa tersebut sehingga ia memutuskan untuk bergabung dengan VOC di Batavia. Kapiten Jonker memiliki tanah dan rumah yang sangat luas di Cilincing kemudian diberikan kepada VOC.

Ketiga orang yang dalam keadaaan terbuang dari kelompoknya bergerak dengan tujuan yang sama yang mendapatkan kekuasaan dan ketenaran nama dan ternyata ketiga menjadi Legenda di Nusantara. Speelman sendiri menjadi legenda karena mampu membuat Sultan Hasanuddin bertekut lutut di Makassar pada pertempuran 1669 sampai 1970 dan tercatat sebagai perang terdahsyat yang pernah dilakukan oleh VOC. Arung Pallakka bersama Spelman dan Kapiten Janker hampir saja melenyapkan benteng Somba Opu setelah berhasil membumi hanguskan isi dari benteng Somba Opu dan memaksa Sultan Hasanuddin menandatangani perjanjian Bongayya. Barikade yang dilakukan armada laut Sultan Hasanuddin adalah penghalang terbesar VOC untuk melakukan praktik monopoli dagang rempah-rempah di kepulauan Maluku.

Selain Kerajaan Gowa, VOC pernah mengirim Arung Palakka ke Sumatra dan mengalahkan perlawan yang dilakukan oleh Rakyat Minangkabau. Arung Palakka bergerak ke dua arah yakni tujuan utamanya membebaskan kerajaan Bone dan di sisi lain bersama dengan VOC hampir seluruh kerajaan di Nusantara pernah ditaklukkannya. Rakyat Minangkabau yang menolak monopoli dagang emas Salido dari Minangkabau melakukan pemberontakan pada tahun 1666 dan berhasil menewaskan Jacob Gruys. VOC yang mendapatkan jalan di buntu di Minang, akhirnya mengirim Arung Palakka ke Sumatera. Arung Palakka yang terkenal sakti madraguna dengan teknik yang luar biasa berhasil menakukkan Minangkabau dan memutuskan hubungan antara Minangkabau dan Aceh. Kekuasaan VOC menjadi semakin luas dari Ulakan sampai Pariaman. Disaat yang bersamaan Arung Palakka dilantik menjadi raja di Ulakan.

Kapiten Jonker terkenal dengan reputasinya menangkap Trunojoyo yang juga melakukan perlawanan terhadap VOC akhirnya tunduk dibawah kekuatan Jongker. Trunojoyo kemudian diserahkan ke Couper yakni anggota VOC berdarah Scotlandia. Persatuan ketiga tokoh tersebut berhasil mengantarkan VOC di Nusantara di bawah kekuasaan Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker ke masa keemasannya. Kekuasaan yang besar dan kepiawaian dalam bermain membuat Speelman berhasil melengserkan Gubernu Jenderal Joan Maetsuyker pada tahun 1681.

Akhir cerita buruk terjadi pada ketiga tokoh karena sifat tamak dan Rakus dari Speelman terendus. Korupsi besar-besaran yang dilakukan Speelman membuat VOC murka dan memerintahkan Isaac declornay de Saint Martin perwira Perancis untuk menangkap Speelman dan disingkarkan dari jabatan Jenderal, sedangkan Kapiten Jonker tewas terbunuh dalam sebuah proses hukuman pancung. Para pengikut setia Kapiten Jonker dan keluarga diasingkan ke Colombo dan Afrika sebagian lainnya tewas dibunuh.

Umar Azmar MF

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments