Kampungbugis.com - Kisah Hidup Arung Palakka I.

Sejarah Kerajaan Bone sangat kental dengan satu sosok yang dianggap sebagai Pahalawan yang membela harga diri Rakyat Bone yakni Arung Palakka. Arung Palakka lahir pada tanggal 15 september tahun 1643 di desa Lamatta, Mario ri Wawo yang saat ini masuk dalam kabupaten Soppeng. Arung Pallakka meninggal jauh dari kampung halamannya yakni di Bontoala pada usia ke 61 tahun pada tanggal 6 April 1696 saat masih menjabat sebagai sultan Bone. Arung Palakka adalah pahlawan kerajaan Bone yang memerdekakan kerajaan Bone dari Kesultanan Gowa pada tahun 1666. Proses perjuangan yang melibatkan banyak pihak termasuk Belanda yang memiliki kekuatan maritim besar membuat Benteng Somba Opu porak poranda di bawah persatuan Laskar Bone dan sekutunya. Keberhasilan ini membuat kejayaan Kerajaan Bone mampu bertahan hampir satu abad lamanya.

Arung Palakka sejatinya bermakna Raja Palakka (saat ini palakka adalah salah satu kecamatan di kabupaten Bone, Sulawesi Selatan). Dalam artikel ini dan 2 serial lanjutannya, Arung palakka yang dimaksud adalah La Tenritatta To Unru To-ri SompaE Petta Malampee' Gemme'na Daeng Serang To' Appatunru Paduka Sultan Sa'adduddin. Sebagaian dari gelar diambil dari karakter Arung Palakka yang memiliki rambut panjang dan sebagaimana ia dibesarkan di kerajaan Tallo, gelar daeng serang disematkan dibelakang namanya sebagai tanda dirinya memiliki keturunan raja.

Riwayat Pernikahan Arung Palakka

Arung Palakka melakukan 4 kali proses pernikahan di sepanjang hidupnya, Istri pertamanya adalah Arung Kaju, pernikahan ini tidak bertahan lama kemudian bercerai. Selanjutnya, pernikahannya yang kedua dilakukan dengan Sira daeng Talele Karaeng Ballawaja pada tanggal 16 Maret 1668. Sira daeng Talele adalah janda dua kali, menikah dari Karaeng Bontorannu dan Karaeng Karungrung Abdul Hamid. Pernikahan ini juga tidak berlangusng lama dan akhirnya bercerai pada tanggal 26 Januari tahun 1671.

Pernikahan ketiga arung Palakka di lakukan dengan We Tan-ri Pau Adda Sange' datu di Watu, Soppeng. Pernikahan yang berlangung pada tanggal 20 Juli 1673 dilakukan dengan seorang janda dari La Suni Adawatung Sidenreng anak dari La Tan-ri Bali Boewa II. Arung Palakka melakukan pernikahan yang keempat dengan daeng Marannu yang merupakan mantan istri dari Karaeng Bontonompo Muhammad. Daeng Marannu adalah anak perempuan dari Pekampi Daeng Mangempa Karaeng Bontomarannu. Pernikahan ini dilaksanakan apda tanggal 14 September tahun 1684.

Awal Persekutuan dengan VOC

Arung Palakka adalah sosok yang sangat disegani di Batavia, yang mana hampir seluruh wilayah kota Batavia saat ini adalah Jakarta. Pria berbadan kekar dengan rambut yang terurai panjang ini digambarkan memiliki pandangan yang sangat tajam bahkan beberapa kisah menyebutkan matanya seolah-olah menyala ketika berhadapan dengan seseorang. Tidak satupun pendekar asli Batavia yang yang tidak bergetar mendengar namanya padahal semua tahu kalau Batavia saat itu terkenal dengan para jawara. Pria yang berasal dari suku Bone dikenal dengan senjata Badik yang mampu memburai usus lawannya ini sudah berkeliaran di Batavi sejak tahun 1660-an, pasca penaklukan Sultan Hasanuddin di negeri asalnya.

Pada masa Kolonial abad 17, dimana kekerasan dan kekuatan adalah hukum di atas segalanya, Salah satu cara agar dapat dilirik dan diterima oleh pemerintahan Belanda adalah unjuk gigi. Mekanisme ini diubutuhkan untuk menundukkan bagian-bagian dari kerajaan jajahan tang tidak tunduk terhadap penguasa saat itu, yakni Belanda. Kondisi ini membuat nama Arung Palakka yang memang sudah dibekali ilmu bela diri luar biasa menjadi semakin cepat dilirik oleh Gubernur Jenderal Joan Maetsueyker, Gubernur dari Batavia.

Hal ini bukanlah pilihan dari Arung Palakka, melainkan sebuah keharusan dimana ia sedang dalam keadaan terasing di Batavia pasca meninggalkan Sulawesi Selatan. Ada niat membara yang tersimpan dalam hatinya untuk membebaskan kerajaan Bone yang membuatnya menjadi beringas dan memiliki semangat tempur sangat luar biasa. Ia terasing dari suku Bone yang kebebasannya kala itu sedang dalam keadaan terpasung, namun di Batavia ia merdeka untuk melakukan apa saja dengan kekuatan yang ia miliki.

Setelah beberapa waktu malang melintang di Batavia dan namanya mulai dikenal, Arung Palakka kemudian membentuk aliansi dengan orang-orang terbuang lainnya seperti Kapiten Jongker dari Ambon dan juga salah satu kapten belanda yang dibuang karena kegagalannya di Sulawesi Selatan yakni Cornelis Janszoon Speelman atau dalam buku dituliskan dengan nama Kapten Speelman. Persamaan keadaan membuat persatuan tiga orang semakin besar dan akhirnya mendapatkan kesempatan dari VOC untuk melakukan penaklukan di berbagai daerah.

Persekutuan ketiga orang terasing ini akhirnya berubah menjadi legenda yang sampai hari ini masih dikenal dan dituliskan dalam buku-buku sejarah. Persekutuan ketiga orang beda ras ini akhirnya mampu menaklukkan banyak benteng di Indonesia untuk VOC dan salah satu kisah termahsyur yang masih jelas tercatat adalah penaklukan Benteng Somba Opu pada akhir abad 16 di Indonesia. Benteng Somba Opu yang merupakan benteng Kerajaan Kembar Gowa-Tallo hampi rata dengan tanah disusul hancurnya banyak istana-istana raja lain seperti istana raja Pallangga di Gowa.

Umar Azmar MF

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments