Kampungbugis.com - Penelusuran Lompo, Jejak Kota Tua Bone.

Dahulu, Bone hanyalah sebuah wilayah kecil yang terletak di tepi teluk (saat ini bernama Teluk Bone). Pada zaman lagaligo (sekitar abad 10 masehi), Bone yang berada dalam wilayah kekuasaan Wewangrian memiliki luas kurang lebih 4 km². Bone juga kerap disebut tanete karena letaknya yang sedikit lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya. Awal mula Bone terdiri dari beberapa kampung atau wanua, tempat yang didiami beberapa keluarga beraktifitas sehari-hari. Lokasi kampung atau wanua yang juga disebut Lompo tersebut ditetapkan melalui tudang sipulung sebagai forum pengambilan keputusan warga.

Tidak hanya lokasi, musyawarah mufakat yang dicapai dalam tudang sipulung juga menetapkan nama-nama Lompo di kota tua Bone. Pada perkembangannya, Lompo tumbuh menjadi tempat berkehidupan masyarakat yang damai dan rukun, serta secara gotong royong bersama-sama mendirikan rumah tinggal (mappatettong bola), mappattaneng, dan mapparele atau mappanre ele.

Tatanan Sosial Bone Terdahulu

Sama halnya dengan kehidupan sosial saat ini, orang bone terdahulu pun membangun tatanan sosial demi mewujudkan kehidupan yang baik. Setiap keluarga menginginkan anaknya tumbuh menjadi Wija Pattola. Wija pattola bermakna anak atau keturunan yg tumbuh dewasa dengan kualitas kehidupan sosial yang setidaknya setara atau bahkan melebihi kehidupan ayah, paman atau neneknya. Secara umum orang Bone mengenal 3 jenis tumbuh kembang wija, yakni:

  1. Wija Lawo: keturunan yang dalam perjalanan kehidupannya tidak pernah mengalami kegagalan,
  2. Wija Batu: keturunan yang dalam perjalanan kehidupannya selalu mengalami kegagalan, dan
  3. Wija to deceng: keturunan anak baik.

Konsep Kepemimpinan

Masyarakat Bone dahulu mengenal klasifikasi kualitas pada keturunan, dalam konteks kekinian hal ini dapat ditafsirkan sebagai integritas. Bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki sikap Deceng (baik) yang melekat pada dirinya. Indikator Wija to deceng atau keturunan yang baik itu sendiri ialah:

  1. Memberi kehidupan bagi orang mati, dalam artian memberi makan bagi orang yang lapar (mappanre to malupu),
  2. Memberi minum bagi orang yg haus (mappainung to madekka),
  3. Bisa menaungi bagi orang banyak (wedding diacinoungi to maega), dan
  4. Mampu melindungi orang banyak (nawatangi tau melemma'e iyarega to maega'e).

Tumbuh sebagai wija to deceng bukanlah satu-satunya prasyarat untuk menjadi pemimpin lompo atau Addjoareng. Pemimpin atau arung dalam satu wanua haruslah merupakan:

  • Seseorang yang memiliki warisan to deceng/arung (matasa ri tunrungi),
  • Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan yg memadai atau orang pintar. (matasa'pi paddissengenna),
  • Seseorang yang memiliki pengalaman pemerintahan yg cukup (matasipi ri apparentaannge), dan
  • Seseorang yang kehidupan sosial ekonominya cukup dan memadai (matasi ri pallaong rumana).

Telusur Jejak Kota Tua Bone

Demikianlah unsur kehidupan bernegara orang Bone dulu, terdiri dari Lompo, Addjoareng atau pemimpin, dan rakyat yang juga disebut Joa. Sebagai pengantar, artikel reportase ini secara berkelanjutan akan menjelaskan riwayat serta keadaan lompo hari ini. Adapun beberapa lompo di kota tua bone dahulu antara lain ialah:

  1. Lompo sao raja,
  2. Lompo laleng benteng,
  3. Lompo saliweng benteng,
  4. Lompo arajange,
  5. Lompo bola soba,
  6. Lompo ade pitu,
  7. Passanggarahan,
  8. Manurung,
  9. Mallajena,
  10. Macanang,
  11. Lompo accule culeng,
  12. Macege,
  13. Toddang laccokkong,
  14. Lompo diajang pasareng,
  15. Lompo diattang masiji,
  16. Lompo sara,
  17. Bubu bata,
  18. Puni, lemo, padacennga,
  19. Lompo ponceng,
  20. Lacceddung, suabeng, bensin,
  21. Bunung tello,
  22. Lompo sikola,
  23. Pangulu, imang,
  24. Lompo munri saoraja,
  25. Kansi, toko, bangkala,
  26. Lompo sikola balanda,
  27. Lompo saliweng benteng,
  28. Lompo laccokkong,
  29. Lompo woddi,
  30. Labukkang cenrana, anrameng,
  31. Bance, mappakkae, lebu,
  32. Lompo mattoangin,
  33. Lompo coppomeru,
  34. Rumpia biru, bocco,
  35. Lompo palakka,
  36. Lompo diawang bola doko,
  37. Ransi, gudang, bengkele,
  38. Lompo matajang,
  39. Macca, cona mambang, cappune,esa,
  40. Lompo alau lassorong,
  41. Lompo lassonrong,
  42. Lompo majang,
  43. Lompo allappareng,
  44. Kalukuluse, muming, cilellang,
  45. Dawi, palattae, tajjuru, bolo,
  46. Walanae masumpu,
  47. Lompo bubung arajang,
  48. Lompo bubung lagaroang,
  49. Kae, marabang, tellongeng, palisu,
  50. Lompo tembo, getta, dare, tasseppi,
  51. Lompo. Bubung bata, bintang, tika,
  52. Lompo pallime, bubung lanlongka,
  53. Lebu, matajang ,sinring, caloko,
  54. Lompo salekoe,
  55. Lompo tibojong,
  56. Lompo ta,
  57. Lompo bukaka,
  58. Dll.

Ikuti pembaharuan artikel serial ini, seri selanjutnya akan terbit dengan laporan penelusuran jejak kota tua Bone, lokasi, dan keterangan lompo.

Bahram Sebbu

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments