Kampungbugis.com - Jalan Perjuangan Arung Palakka.

Sejarah perjuangan dan perkembangan rakyat Sulawesi Selatan tidak akan lepas dari dua tokoh besar yang saling beradu dan bersiteru yakni Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka yang merupakan pemimpin dari dua kerajaan besar di Sulawesi Selatan. Sebagain besar masyarakat Sulawesi Selatan meyakini bahkan representasi dari kebesaran Suku Bugis dan Makassar berada pada dua tokoh tersebut, meskipun beberapa tendensi negatif yang melekat pada diri Arung Palakka, namun sosoknya merupakan pahlawan bagi negerinya yang terjajah yang berushaa membebaskan rakyatnya dari belenggu kerajaan lain.

Pandangan Leonard Y Andaya.

Leonard Andaya adalah seorang sejarawan yang menuliskan kisah Arung Palakkad an kerajaan dengan gaya bahasa yang tegas. Leonard memandang bahwa ada sebuah penyebab yang penting dalam proses persekutuan antara Arung Palakkad an VOC dan dengan rela melakukan perang saudara dengan kerajaan Gowa yang sedang berada di atas kejayaan dan dalam posisi kerajaan yang terkuat pada abat ke-17 di Nusantara.

Andaya berpendapat bahwa persaingan Ekonomi dibagian barat lau wilayah Nusantara antara kerajaan Gowa dan VOC bukanlah jawaban yang paling tepat dijadikan sebagai penyebab persekutuan yang menjadi puncak peperangan dari selang tahun 1666 sampai 1669 dan jatuhnya benteng Somba Opu. Jika alasan ekonommi yang dijadikan patokan utama, tentu akan jauh lebih mudah untuk nerunding dengan Kerajaan Gowa yang sudah memiliki ikatan darah dari kerajaan Luwu dibandingkan harus bersusah payah bersekutu dengan VOC yang saat itu dikenal sebagai penajajah di hamper seluruh wilayah Nusantara.

Pandangan adat budaya Budaya tentang Panngadereng yang meliputi Siri', Pacce' dan Sare merupakan darah dari setiap suku-suku di Sulawesi Selatan yang harganya diletakkan di atas kematian merupakan alasan utama dari kebersediaan dari Arung Pallaka bersatu dengan tentara VOC, Buton dan Ambon pada masa tersebut. Siri' merupakan representasi dari harga diri atau rasa malu, Pacce adalah persaan tenggang rasa dalam memahami kepedihan yang dialami sesama dalam hal ini rakyat Bone dan Sare yang merupakan keprecayaan yang menunjukkan bahwa nasib suatu kaum akan ditentukan oleh usaha dan perjuangan kaum itu sendiri. Tanpa memahami hal tersebut maka sangat sulit memisahkan pandangan konkret dan pandangan abstrak tentang perjuangan Arung Palukka dna penilaian keruh akan terus tertoreh dalam setiap tulisan yang diterbitkan.

Arung Palakka, Kerajaan Gowa dan Cornelis Speelman

Arung Palakkan adalah seorang laki-laki yang dilahirkan di Desa Lamatta yang saat ini berada di daerah Mario Riwawo, Soppeng. Arung Palakka lahir sebagai seorang pewaris Tahta yang sah atask kerajaan Bone yang pada saat itu berada di bawah wilayah penaklukan kerajaan Gowa karena kebiasaan perang saudara suku-suku di Sulawesi Selatan. Hampir sama dengan sistem kerajaan Ingris kuno, peperangan di Sulawesi Selatan adalah upaya mencari tanah dan pajak dari daerah yang telah ditaklukkan.

Sebagai daerah takulkkan tentu saja tidak berarti daerah musuh oleh karena itu, Arung Palakka yang juag memiliki keturuanan Raja di besarkan di tempat yang sama dengan dengan Sultan Hasanuddin kecil yakni dibawah pengawasan karaeng Pattingaloang yang merupakan Gallarang Tumailalang dari Kerajaan Gowa. Pada masa tersebut, Gallarang Tumailalang memegang peranan penting dalam melatih para calom pemimpin dan raja-raja kecil termasuk diantaranya Sulran Hasanuddin dan Arung Pallakka, keduanya mendapatkan bekal dalam strategi perang dan juga ketangkasan.

Arung Palakka muda tumbuh di dalam Istana Gowa dan melakukan eprgaulan seperti umumnya pemudah Makassar, namun Siri' na Pacce tentu saja ada dalam setiap darah lelaki bugis-makassar termasuk juga Arung Palakka. Hal ini yang membuatnya teringat akan sare' (Takdir) sebagai seorang raja yang harus membebaskan Kerajaan Bone dari wilayah penaklukan kerajaan Gowa terutama sejarah kelam pembangunan garis pertahanan pantai Makassar yang melibatkan banyak budak (ata) yang berasal dari daerah Bone. Sebuah sumber menyebutkan total budak dari daerah Bone berjumlah 10.000 dari wilayah Makassar sebanyak 15.000 orang.

Dalam upaya membebasakan Wilayah dan Rakyat Bone dari daerah penaklukan kerajaan Gowa, Arung Palakka membuat suatu percanaan untuk melakukan perlawanan besar yang dimulai dari pindahnya Arung Palakka ke Batavia pada tahun 1660. Arung Palakka membawa sebagain besar pengikutnya yang setia untuk meminta bantuan dari VOC dengan sumpah dalam hati yang tidak akan berhenti mencari kemerdakaan negeri Bugis. Setelah masa menanti slama lima tahun, akhirnya keinginan Arung Palakka mulai menampatkan harapan dimana VOC yang kagum atas daya tempur pasukan Arung Palakka pada perang terjadi melawan Minangkabau. VOC yang memiliki motif ekonomi di laut Timur dan dihalangi oleh kerajaan Gowa akhirnya mengajak Arung Palakka oleh Cornelis Speelma untuk melakukan ekspedisi ke Gowa.

Pasca Perang Makassar

Perang maha dahsyat yang berakhir pada runtuhnya kedikdayaan benteng Somba Opu, Arung Palakka menyadari bahwa pemuliahan nama baik dan keberhasilan membebaskan Bone mencatatkan sebagai perang yang paling berhasil di Sulawesi Selatan. Keteguhan akan sumpah Arung Palakka untuk bekerja sama dengan VOC juga kembali iya buktikan ketika VOC menyelesaikan perang perlwananna Kerajaan Trunajaya yang dibantu oleh pengungsian karaeng Galesong di Jawa pada tahun 1678. Keberhasilan Arung Palakka menjalin kerja sama dengan Belanda merupakan kepiawaian politik yang pada masa itu sangat sulit dilakukan mengingat perbedaan kultur antara Belanda dan kultur Timur adlaah sebuah prestasi tersendiri meskipun pada akhirnya tanda-tanda penghianatan VOC sudah mulai muncul pada saat suara di Fort Rotterdam memaksa Arung Palakka berbagi kekuasan di Sulawesi Selatan.

Umar Azmar MF

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments