Kampungbugis.com - Benteng Balangnipa : Saksi Perjuangan Federasi Kerajaan Tellu Limpoe Melawan Penjajahan.

Berdiri di Kabupaten Sinjai, Kecamatan Sinjai Utara, kelurahan Balangnipa, sebuah benteng dengan Asitektur khas Eropa abad ke-15. Bangunan yang menjadi saksi perjuangan Persekutuan Tellu Limpoe melawan penjajahan ini merupakan salah satu dari tiga benteng di Provinsi Sulawesi Selatan yang masih berdiri sejak zaman kolonial. Ketiga benteng tersebut ialah:

  1. Benteng Fort Rotterdam atau Benteng Pannyua,
  2. Benteng Somba Opu, dan
  3. Benteng Balangnipa yang terletak sekitar 1 km sebelah utara pusat Kota Sinjai.

Federasi Kerajaan Tellu Limpoe

Seluruh wilayah yang saat ini menjadi cakupan kabupaten Sinjai dahulunya (kurang lebih empat abad yang silam) adalah wilayah federasi kerajaan Tellu Limpoe. Secara etimologis, Tellu Limpoe terdiri atas dua kata yaitu Tellu yang berarti Tiga, dan Limpoe (Limpu) yang berarti Tempat. Tafsir etimologis tersebut menjelaskan kerajaan Tellu Limpoe yang berbentuk federasi dan meliputi tiga buah kerajaan otonom yang meliputi:

  1. Lamatti,
  2. Tondong, dan
  3. Bulo-bulo.

Keterangan yang menjelaskan cakupan wilayah kekuasaan federasi Tellu Limpoe ini dapat ditemukan dalam Lontara bulo-bulo.

Tondong, Bulo-Bulo, Lamatti Enrenge Mappajung Tanre Tellu Limpoe Menre Mabbaho Bulu Datu TungkeE ri Baringeng.

Benteng Balangnipa

Salah satu bukti sejarah kemegahan federasi kerajaan Tellu Limpoe ialah Benteng Balangnipa. Sebagai saksi peradaban Tellu Limpoe, Benteng Balangnipa didirikan pada abad ke-15 atau tepat pada tahun 1557. Pada awalnya Benteng Balangnipa didirikan dengan bahan utama penyususn dinding dari batu gunung yang direkatkan dengan menggunakan lumpur dan tanah liat dari sungai Tangka.

Dinding benteng balangnipa dibangun tertutup dengan ketebalan dinding yang mencapai setengah sepa atau Siwali Reppa. Benteng Balangnipa didirikan tepat menghadap Sungai Tangka pada sisi bagian Utaranya. Benteng Balangnipa juga dilengkapi dengan 4 buah Bastion dengan bentuk persegi empat sedikit oval. Bastion adalah bagian dari bangunan yang terdapat dalam benteng yang digunakan sebagai pos bertahan ketika benteng sedang dalam keadaan di serang ataupun sedang bersiaga.

Sejarah Penaklukan (Rumpa’na Mangarabombang)

Federasi kerajaan Tellu Limpoe merupakan salah satu dari sekian banyak kerajaan di Sulawesi Selatan yang berjuang sangat berat melawan invasi militer Belanda di bawah bendera dagang VOC. Sebagaimana tercatat dalam sejarah perang besar Rumpa’na Mangarabombang (perang Mengngarabombang) yang berkobar dari tahun 1859 sampai tahun 1861. Hingga akhirnya Benteng Balangnipa berhasil takluk ditangan Belanda pada tahun 1859, salah satunya disebabkan oleh perbedaan teknologi dan persenjataan antara Belanda dan prajurit dari kerajaan Tellu Limpoe yang sangat jauh. Meskipun benteng Balangnipa telah jatuh ke tangan Belanda, para pejuang Pribumi dan juga prajurit persekutan kerajaan Tellu Limpoe terus menerus melakukan serangan balik ke Belanda. Ditangan Belanda, Benteng Balangnipa dijadikan sebagai basis pertahanan terkahir dari gempuran perlawanan rakyat Tellu Limpoe yang terjadi sampai tahun 1861.

Renovasi Benteng Balangnipa

5 tahun setelah benteng Balangnipa dikuasai oleh Belanda, Benteng Balangnipa kemudian direnovasi dan mendapatkan sentuhan arsitektur Eropa. Renovasi yang dilakukan oleh pihak Belanda ini rampung sekitar tahun 1898. Hasil renovasi yang dilakukan oleh Belanda pada era tersebutlah yang bertahan hingga hari ini. Fisik benteng dibangun dengan lebar:

  1. Pada bagian sisi utara sebesar 49,45 meter,
  2. Sisi selatan 30,47 m,
  3. Sisi barat 49,10 m, dan
  4. Pada sisi bagian timur dangan lebar 59,27 m.

Dinding benteng yang dibangun dengan ketebalan setangah meter cukup kuat untuk menahan ledakan sebuah peluru meriam kecil.

Arsitektur Pasca Renovasi Belanda

Akses masuk ke benteng dibangun dengan pintu utama sebesar 4 meter dengan bentuk dua daun pintu dari kayu tebal. Pintu ini di desain dengan atas setengah lingkaran menyerupai terowongan. Sudut benteng tidak tepat menunjukan empat arah mata angin utama, melainkan menunjukan ke arah barat laut, barat daya, tenggara dan timur laut. Pada bagian dalam benteng dibangun 2 buah dapur untuk keperluan operasional benteng, 3 rumah hunian, dan 1 gudang bekas mesiu. Bagian dalam benteng juga digali 4 sumur sebagai sumber air utama dari benteng ketika dalam keadaan siaga. Sama halnya dengan benteng lainnya, pada bagian dalam benteng di bangun sel sebagai tempat penahanam dan penyiksaan pemimpin pejuang yang tertangkap serta tangga sebagai scout tower. Renovasi yang dilakukan oleh Belanda telah menghilangkan Ciri khas bangunan Bugis Makassar pada benteng secara keseluruhan.

Cagar Budaya

Sebagai cagar budaya dan juga bangunan bersejarah, di dalam benteng Balangnipa masih tersimpan sebuah Meriam berbahan Perunggu dengan dimenasi 96 cm, lebar moncong 11 cm, dan ruangan ledak meriam sebesar 18 cm. Meriam dengan ukuran sama juga masih tersimpan dengan baik di kediaman Raja Lamatti. Selain meriam, juga terdapat beberapa koleksi Benteng berupa keramik kuno yang berasal dari China dengan jenis Ching, Swati, Ming serta beberapa keramik dari Eropa dan juga Jepang.

Sejak berhasil direbut oleh Indonesia hingga saat ini benteng Balangnipa tidak lagi berfungsi sebagai Benteng. Bangunan benteng lebih banyak diperlakukan sebagai situs sejarah dan museum yang menyimpan rapih memori-memori perang Manggarabombang. Lapangan benteng yang realtif luas juga masih digunakan oleh pemerintah daerah Sinjai sebagai lokasi pagelaran atraksi dan pertunjukan budaya tradisional Bugis. Bagi anda yang sedang dalam perjalanan ke Kabupaten Sinjai atau memiliki rencana untuk berkunjung ke Sinjai, susunlah rencana sederhana untuk mengunjungi bentang Balangnipa. Selain berguna untuk menambah referensi sejarah, kunjungan wisata tersebut juga dapat meningkatkan rasa syukur dari perjuangan para pahlawan terdahulu dalam melawan para penjajah dari bumi pertiwi.

Umar Azmar MF

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments