Kampungbugis.com - Asal usul gelar andi di Masyarakat Sulawesi Selatan.

Gelar Andi adalah bentuk inisisiasi dari bangsawan-bangsawan bugis di Sulawesi selatan sebagai upaya memperjelas strata yang kian kompleks di Masyarakat terkait dengan banyaknya perkawinan yang terjadi antara kaum bangsawan dan masyarakat biasa. Gelar La, WE dan Daeng yang sebelumnya banyak digunakan kini semakin ditinggalkan bahkan Daeng sendiri sudha mengalami pergeseran makna. Tahun 1850, Baso dan Besse sangat populer, kemudian dgantikan dengan Ambo/Indo, kemudian pada tahun 1880 sampai dengan 1990-an gelar Bau sampai yang terkahir sejak tahun 1930-an gelar Andi kemudian yang digunakan secara luas.

Menengok kembali ke Sejarah Sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia dan juga kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan sangat sulit dipisahkan dengan campur tangan Belanda. Kependudukan BElanda di Indonesia yang pada teorinya merupakan pemerintah di Hindia Belanda namun pada hakikat dan implementasinya di lapangan merupakan bebentu Penjajahan telah banyak berpengaruh terhadap perkebangan kehidupan sosial dan budaya di Sulawesi Selatan. Perubahan tersebut telah menjadi hukum sosial mutlak yang berlaku di mana saja.

Pada awal abad ke 19 yakni tahun 1905 seluruh nusantara telah hampir jatuh ke tangan pemerintah Hindia Belanda kecuali dua wilayah yakni Aceh dan Juga Sulawesi Selatan. Snouck Horgronye kemudian dikirim ke Aceh oleh belanda untuk menaklukkan perlawan Cut Nyak dien dan F.Matthes dikirim untuk menaklukkan daerah Sulawesi Selatan yang terkenal keras kepala dan tidak mau tunduk. Pada Masa tersebut, terdapat dua kerajan yang belum takluk yakni Kerajaan Bone yang dipimpin oleh Petta PonggawaE sedangkan perlawan yang dilakukan oleh kerajaan Gowa dipimpin oleh Sultan Husain Karaeng Lembang Parang.

Perlawanan sengit dari Kerajaan Bone yang dipimpin oleh Arumpone La Pawawoi Karaeng Sigeri ri Awo akhirnya dapat dihentikan oleh pihak Belanda. Dengan dimikian Keinginan Belanda untuk melaksanakan Korte Veklaringdi Sulawesi Selatan akhirnya dapat berjalan dengan mulus. Perjanjian yang sudah mulai dipaksakan sejak tahun 1880-an yakni dengan meurbah sebagian isi perjanjian Bongaya agar pihak kerajaan lokal harus melakukan perdangan dengan kerajaan Belanda.

Perjanjian Korte Veklaring, hampi rsenasib dengan perjanjian Bongaya dimana bentuk perjanjian tersebut tidak menyurutkan perlawan sehingga komandan pasukan Gowa yakni I Tolo Daeng Mangassing dengan sukungan Ishak Manggabarani yang merupaka Tumabicara Butta Gowa yang juga merangkap sebagai Arung atowa Wajo. Perlawan ini baru dapat dipadamkan tahun 1916. Begitu juga perlawan yang terjadi di Bone Selatan dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Belanda tidak pernah benar-benar berkuasa di Sulawesi Selatan. Tahun-tahun buruk di Eropa dampak dari perang dunia I juga membuat kondisi negara-negara jajahan belanda menjadi semakin longgar.

Dampak Perjanjian Korte Veklaring Pihak Belanda yang menyadari ketidakmampuan mengurus kerajaan-kerajaan di daerah Taklukkan pasca perang dunia I, mebuat belanda melakukan konsolidasi di beberapa daerah jajahan terasuk Sulawesi Selatan. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda kemudian mengarahkan kerajaan-kerajaan yang vakum untuk berdiri kembali namun tetap di bawah pengawasan Belanda. Terdapat dua syarat yang ditetapkan oleh Belanda yakni Tidak boleh melakukan perlawana ke Belanda dan yang Kedua Struktur administrasi kerajaan diubah, hal ini tidak lain bertujuan untuk tetap mengcekram dan mengendalikan kerjaan dengan demikian secara otomatis, Kekuasan para Raja-raja semakin berkurang meskipun gelar masih melekat pada setiap raja. Langkah pertama yang dilakukan oleh Belanda adalah mencari Putra Mahkota yang dengan pertimbangan darah bangsawan untuk dianggkat menjadi Raja.

Sebagaimana yang telah diketahui bersama melalui buku-buku sjarah, Pemerintah Hindia Belanda kemudian menerapkan Politik Etis dimana pencanangan politik balas budi terhadap seluruh daerah jajahan di wilayah Jajahan. Implementasi dari hal ini maka dibangunkan sekolah-sekolah seperti Stuvio, Mulo, HIS dan juga beberapa kebijakan pendidikan lainyanya. Sedangkan dibidang Imigrasi, Belanda kemudian melakukan transmigrasi dari penduduk ke Wonomulyo Polma untuk membuka lahan-lahan baru sedangkan pada Irigatie, pembangunan bendungan-bendungan juga dilakukan untuk mendukung program-program pembukaan lahan, jembaran dan infrastruktur lainnya.

Dalam masa ini Kerajaan yang diberi nama ZelfBestuur ataupun Swapraja, tidak sepenuhnya memrintah namun berada dibawah pengawasan dari Controleur secara langsung yang banyak dikena dengan nama Tuan Petor(Petoro) dengan sistem pemerintahan yang lebih modern yang mirip dengan sistem pemerintahan Kabupetn pada saat ini. Para raja-raja dari masing-masing wilayah seperti Somba Gowa, Datu Luwu, Arumpone, Arung Matowa Wajo, dan Datu Soppeng merupakan pemimpin setingkat Bupati sementara untuk pejabat adat seperti Somba Gowa, Datu Luwu, Arumpone, Arung Matowa Wajo, Datu Soppeng menjadi kepala-kepala distrik dibawah bupati yang saat ini dapat dianalogikan sebagai Kecematan yang juga merangkap kepala dinas.

Masa Penggunaan Gelar Andi Pada masa ini sesuai dengan penjelasan yang diberikan oleh Mattulada dan Matalatta, Gelar Andi diberikan pada mereka golongan terpelajar yang merupakan lulusan dari Sekolah Stuvio dan bekerja untuk pemerintah namun sebagian orang menyangkal pemberian gelar ini hanya berasal dari kalangan terpelajar alumni Stuvio. Sebuah proses komplek terjadi pada masa Kerajaan di bawah naungan tuan Petor dengan alasan:

  1. Tidak semua Andi berasal dari generasi Awal yakni dari kaum terpelajar dari versi Belanda namun beberapa keturunan Bangsawan juga tetap memberikan Andi pada bagian nama anak-anak mereka pada masa tersebut.
  2. Tidak semua bangsawan yang terpelajar juga menggunakan nama Andi

Meskipun demikian, Inche Nurdin mengklaim bahwa Matthes adalah orang pertama yang memberikan gelar Andi kepada bangsawan Bugis terpelajar. Kesaksian ini jauh lebih kuat dimana kebiasaan Belanda mentaktis seluruh aspek kerajaan namun dengan demikian tidak berarti bahwa gelar Andi yang murni dari Belanda. Hal yang perlu dipertimbangkan adalah kejadian pada masa kolonialisme Belanda pada tahun 1930 tidak serta dapat menerapkan seluruh keinginannya ke dalam kehidupan kerajaan dan masyarakat Sulawesi Selatan oleh karena itu Jika “Andi” sendiri tidak berasal dari budaya Bugis-Makassar maka penerimaan secara menyeluruh mustahil dapat terjadi dna masih dipertahankan hingga hari ini.

Ahmad Dahlan

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/25/2017

Disqus Comments