Kampungbugis.com - Makna dan Konsep Pemmali dalam kehidupan Masyarakat Bugis.

Masayarakat Bugis-Makassar (dalam kasus ini sangat sulit memisahkan kedua suku ini dari tinjauan adat dan budaya) mempercayai bahwa pelanggaran terhadap pemali akan mendapatkan teguran atau juga kutukan. Teguran dan kutukan ini bergatung dari jenis pelangaran yang dilakukan mulai dari hal sederhana sampai ancaman kematian. Memang tidak ada hukum atau norma yang mengatur tentang pamali namun nilainya sudah sangat melekat pada kehidupan masyarakat Bugis.

Makna Pemmali

Pamali (bugis: Pemmali) adalah sebuah konsep bentuk larangan-larangan kepada seseorang yang ingin belakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai keprceyaan suatu daerah. Pamali dapat diartikan sebagai suatu larangan, pantangan atau hal yang tabu dilakukan berdasarkan suatu adat atau kebiasaan namun berberda dengan hukum adat dan norma, pelanggaran karena pemmali tidak akan mendapatkan hukuman dari manusia atau sanksi adat akan tetapi mendapatkan teguran dari batara (non-islam) dan teguran dari Allah SWT (Islam).

Peran dan Fungsi Pemmali

Peranan utama dari pamali adalah suatu pegangan di luar hukum dan norma yag tertulis dalam kehidupan masyarakat yang menjaga dan menjadi pedoman agar tetap tercipat pribadi yang luhur, santun dan bijak. Pamali memegang peranan penting dalam perkembangan budi pekeri masyarakat hanya dalam kadar yang berlebuh penganut pamali garis keras cenderung lebih ke arah skeptish dan cenderung menyusahkan kehidupan sehari-hari karena pabanyaknya pantangan yang di anut.

Bentuk-bentuk Pemmali

Dalam adat dan budaya suku bugis, Pamali dibagi menjadi dua jenis yakni berdasarkan perkataan dan perbuatan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya tidak ada yang pernah mencatat seluruh pamali (pantangan) yang ada namun aturan tersebut sudah melekat dan diawriskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar.

Pamali dalam bentuk perkataan

Pamali dalam bentuk perkataan atau anjuran adalah aturan yang menunjukkan larangan untuk mengeluarkan tutur kata atau kalimat pada waktu, tempat atau kondisi tertentu. Kata-kata yang muncul akan dianggap tabu dan akan berdampak dengan kejadian yang sesuai dengan yang diucapkan. Contoh kalimat yang diucpakan adalah “balawo” (tikus sawah), “Buaja” (Buaya), Guttu (Guntur) dan kata-kata lain yang dapat mengundang bala.

Masayakrat bugis percaya bahwa mengucapkan kata tersebut pada akan menimbulkan banyak bala terlebih pada kondisi yang sesuai, seperti ketika mengucapkan kata “balawo” akan dapat menyebakan gagal panen terutama pada masa-masa menjelang musim panen atau mengucapkan kata “Guttu” terutama pada musim hujan dan di daerah lapang atau tanah terbuka seperti sawah akan menyebakan petir menyambar si penutur kata. Sebagai bentuk upaya untuk menghidanri kata tersebut, orang-orang Bugis mengganti kalimat dengan kalimat lain seperti “punnana tanae” yang bermakna yang berkuasa di tanah untuk kata Balawo atau tikus, “punnana wae” yang bermakna penguasa air untuk kata buaja atau buaya.

Pamali dalam bentuk tindakan atau perbuatan

Pammali dalam bentuk ke dua adalah pammali dalam bentuk tindakan atau perlakuan yang dilarang dengan tujuan agar terhindar dari bahaya, karma atau seret rezeki. Pammali jenis adalah pammali jenis terbanyak dan setiap kampung-kampung di bugis dan Makassar akan menunjukkan perbedaan meskipun hampir sebagian besar serupa. Pammali ini snagat dihindari dan akan mendapatkan langsung peringatan dari orang tua atau orang yang mengetahui agar segera menghentikan kegiatan yang sedang dilakukan.

Contoh Pammali:

Larangan gadis tidak boleh tidur di pagi hari sampai siang hari

de’na wedding na’ dare ko matinro lettu tengga esso nasaba labewi dalle’na

Larangan yang berlaku dan umum ditemukan di hampir seluruh daerah Indonesia ini memberikan petunjuk agar setiap anak gadis bangun pagi hari karena bangun kesiangan adalah ciri-ciri orang pemalas. Apabila seorang gadis dalam keadaan sehat sering bangun kesiangan hal ini dianggap tidak bijak sehingga dapat menghalangi seluruh rezeki yang akan datang. Dibeberapap daerah bugis lainnya telah bangun akan dikaitkan dengan keulitan mendapatkan jodoh karena mereka akan dicap sebagai seorang pemalas dan para bujang enggan menikahi mereka. Para bujang menganggap menikahi gadis pemalas akan berdampak pada kehidupan rumah tangga yang sulit mendapatkan rejeki.

Jika bangun siang di tinjau dari segi lain bangun pagi dapat menyebakan pribadi malas. Pekerjaan pagi hari adlah pekerjaan yang penting untuk menunjang kegiatan selama berkativitas di siang hari. Seorang suami yang tidak sarapan atau menpatakn minumah hangat di pagi hari bisa saja tidak fokus dalam melakukan pekerjaan sehingga wanita yang bangun kesiangan dapat menyebabkan kerugian di sluruh penghuni rumah. Masyarakat Bugis menempatkan perempuan sebagai kunci keberhasilan mengurus rumah tangga sedangkan laki-laki orang yang membawa Rezeki di dalam rumah. Seorang wanita bugis haruslah perkasa untuk mengatur kebutuhan rumah tangga dan juga melayani suami, hal ini juga yang mendorong sulitnya untuk mempersunting wanita-wanita bugis.

Larangan bernyayi ketika sedang memasak

Riappemmalianggi ana’ daraE makkelong ri dapurennge narekko mannasui

Masyarakt bugis sangat pantang untuk bernyanyi ketika seseorang sedang memasak di dapur terutama seorang gadis karena hakikatnya para kaum pria bekerja di sawah (mencari uang) sehingga hanya perempuan yang boleh berada di dapur. Dalam kehidupan modern, tidak peduli seberapa besar penghasilan sang wanita dibandingkan laki-laki, Wanita tetap memiliki peran utama di dapur. Larangan ini akan diancam dengan sulit pdat jodoh bagi perawan dan bagi yang sudah berkeluarga akan sulit mendapatkan rezeki.

Berdasarkan logika, sulit mendapatkan jodoh dan bernyanyi di dapur tentu saja tidak memiliki hubungan yang erat aka tetapi ketika seorang wanita bernyanyi ketiak memasak aka nada kemungkinan dan bahkan besar kemungkinan ludah atau air liur secara tidak sengaja terpencik pada makanan sehingga masakan yang dimakan jadi tidak sehat dan ada kemungkinan berbahaya untuk di komsumsi. Perilaku ini kemudian tidak di larang secara langsung karena kemungkinan aka nada sanggahan “saya tidak mengelaurkan liur kok ketika menyanyi” sehingga ancaman dibuat dalam bentuk yang tidka bisa di ukur yakni joh atau kematian.

Selain dari larangan di atas masih banyak contoh tentang Pamali yang ada dalam kehidupan masayarkat bugis yang sulit untuk dimasukkan ke dalam satu artikel ini. Seperti larangan kelaur ketiak seseorang sedang makan di dalam rumah ancaman tidak lain adalah bahay yang dapat menyebakan meninggal dunia, tentu saja meninggalkan orang yang sedang makan sangat tidak sopan terlebih jika tuan rumah sudah mengundang untuk makan. Nilai-nilai tersebut dapat dijadikan sebagai rujukan agar kehidupan dalam masyarakat lebih santun, arif dan bijak serta tidak hanya ditinjau dari segi ancamannya saja melainkan manfaatnya.

Umar Azmar MF

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments