Kampungbugis.com - Lipa Sabbe: Identitas Fashion dan Budaya Suku Bugis.

Sarung adalah kain khas Nusantara yang dijahit membentuk lingkaran, dikenakan secara umum dengan cara memasukkan ke dalam tubuh dari lubang bagian bawah ke atas. Dahulu kala sarung bukanlah barang murah dan hanya dikenakan oleh para saudagar. Bukti-bukti budaya sarung masih dapat di jumpai yakni pakaian nasional dari beberapa suku di Nusantara masih menggunkaan sarung sebagai bawahan. Malaysia dan Singapura juga diketahui masih mengenakan sarung sebagai pakaian identitas bangsa meskipun beberapa lelaki melayu tidak mengenakan sarung sebagai bawahan utama sehari-hari karena sudah terbiasa mengenakan celana panjang. Kendatipun demikian sarung tetap digunakan dalam acara-budaya atau hari-hari besar tertentu. Sedikit berbeda, penggunaan sarung di Malaysia dan Singapura disematkan bersamaan dengan mengenakan celana panjang.

Golongan Pengguna Sarung

Dalam sudut pandang budaya, Kuncaraningrat (1986) membagi penggunaan sarung beradasarkan 4 golongan yakni:

  1. Sebagai pakaian biasa yang dikenakan untuk melindungi diri dari suhu dan gangguan alam sekitar seperti serangga;
  2. Lambang keunggulan dan gengsi;
  3. Pakaian yang dianggap suci; dan
  4. Perhiasan tubuh.

Pandangan Sosial Terhadap Penenun

Pada tahapan produksi, sang penenun sarung menunjukkan keuletan, ketekunan, kesabaran, kreatifitas utamanya disaat menenun dan jika penenun tersebut adalah seorang wanita. Sebagaimana yang terjadi di kehidupan suku bugis, dimana wanita diposisikan sebagai pengurus rumah tangga dan pria mencari nafkah. Hal ini secara berangsur-angsur mengasah dan memberikan tempat yang tinggi bagi kaum hawa untuk mengerjakan banyak hal yang tidak dapat dikerjakan oleh pria.

Sentra Pengrajin

Pada awal perkembangan suku Bugis Makassar, yakni sekitar abad ke-12 dan 13 Sulawesi Selatan adalah salah satu suku di nusantara yang sangat identik dengan penggunaan sarung. Sarung yang dalam bahasa bugis disebut Lipa di kebudayaan bugis terbagi menjadi 2 jenis, yakni sarung biasa (dibuat dengan bahan biasa) dan sarung atau Lipa' Sabbe (dibuat menggunakan bahan sutera). Ke-identik-an suku bugis dengan sarung dapat dibuktikan melalui keberadaan sentra penjualan dan pembuatan sarung yang terkenal di seluruh Nusantara dan masih dapat ditemukan hingga hari ini, sentra tersebut tidak lain ialah Wajo. Wajo terkenal sebagai sentra produksi sarung, baik untuk jenis biasa maupun yang dipintal dari benang yang terbuat dari kempompong ulat Sutera. Dalam sejarahnya, proses pembuatan sarung di wajo terus mengalami peningkatan utamanya dari segi kualitas pembuatan tentunya tanpa meninggalkan nilai-nilai sakral dalam pembuatan sarung seperti penetuan corak.

Ragam Corak Lipa' Sabbe

Pada umumnya ada dua jenis ragam hias dalam pembuatan Lipa' Sabbe, yakni:

  1. Ragam melingkar atau Balo Makkaluk yang menggunakan jalur benang pakan, dan
  2. Ragam hias berdiri atau balo matettong yang menggunakan jalur benag lungsi.

Sedangkan dari segi ragam hias geomoteri, terdapat tiga jenis ragam hias yakni

  1. Balo renni (kotak-kotak berukuran kecil),
  2. Balo tengnga (kotak-kotan burukuran sedang), dan
  3. Balo lebba’ (kotak-kotak berukuran besar).

Selanjutnya, ragam ini kemudian ditenun dengan benang warna-warni yang dikenal dengan sebutan tenun Palekat.

Makna Filisofis dari Lipa’ Sabbe

Corak pada lipa' sabbe bukanlah penentu dari penggunannya, dalam tradisi suku Bugis, warna adalah dasar penempatan posisi yang melambangkan dari pengguna. Paling tidak terdapat 4 jenis identitas pengguna lipa' sabbe berdasrkan warnanya yakni:

  1. Bangsawan yang diwakili warna hijau dan merah;
  2. Gadis yang diwakili warna muda atau lemut seperi merah muda, hijau muda;
  3. Janda yang menggunakan wanra cerah seperti oranye; dan
  4. Orang yang sudah berkeluarga yakni warna-warna gelap seperti hitam.

Perbedaaan warna ini sudah membuadaya dari zaman dahulu dengan tujuan keteraturan, dimana menanyakan status seseorang dalam kebudayaan suku Bugis dan Makassar bukanlah perkara sopan dan tidak boleh ditanyakan oleh sembarang orang terlebih bagi mereka yang asing, meskipun pada masa kini aturan penggunaan warna di atas sudah mulai ditinggalkan namun masih banyak yang memgang teguh nilai-nilai tersebut.

Lipa' Sabbe yang Tergerus Zaman

Penyebab utamanya tidak lain adalah perkembangan teknologi dan juga keterampilan membuat manusia semakin pandai menciptakan barang dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang singkat. Hal ini umum terjadi pada kerajinan-kerajinan tradisional baik di dalam maupun luar Nusantara. Pada zaman dahulu dibutuhkan waktu yang lama dan ketekunan untuk memintal kepompong ulat sutra menjadi benang dan Benang sutra yang halus kemudian ditenun dengan peralatan sederhana menjadi selembar kain sarung. Saat ini hanya dalam kurun waktu sekitar 4 jam, ratusan lembar sarung dapat dihasilkan melalui mesin raksasa yang dikendalikan oleh komputer. Belum lagi keseluruhan proses produksi ini terlaksana dengan biaya produksi yang terbilang rendah. Selanjutnya harga penjualan sarung mengalami tekanan hingga saat ini, tidak sulit menemukan harga 10.000 untuk setiap lembar sarung.

Tidak dapat dipungkiri, keberadaan sarung tradisional perlahan-lahan mulai tergeser. Kalah saling dari segi jumlah, kualitas dan corak yang dicetak dengan grafis membuat orang-orang beralih dari sarung sutra atau Lipa' Sabbe yang dijual dengan harga yang berpuluh-puluh kali lipat dibanding harga sarung sintetis. Keberadaan sarung dianggap jadi bagian budaya yang dilestarikan bukan lagi dijalankan. Saat ini sarung hanya akan ditemukan pada acara-acara adat yang melibatkan ritual tertentu, terutama pada pesta pernikahan.

Faktor utama

Menurut hemat penulis, alasan mulai ditinggalkan Sarung Sabbe sebagai Identitas diri dalam kehidupan sehari-hari tidak lain disebabkan oleh 3 faktor utama yang meliputi:

Harga

Pembuatan lipa' sabbe tradisional tidak lah mudah membutuhkan kesebaran serta rantai produksi yang panjang. Mulai dari sejak memelihara ulat sutra hingga menjadi kepompong, mengolah kepompong menjadi bahan mentah berkualitas yang tentu saja tidak langsung memintal kepomppong, proses pemintalan, pemberilan warna pada benang sampai akhirnya proses penenunan yang tingkat kesulitannya berdasarkan corang yang digunakan. Waktu yang butuhkan untuk seluruh proses tersebut jika dilakukan terpisah paling cepat dua sampai 3 bulan. Tentu biaya produksi untuk mebayar seluruh proses tersebut tidaklah murah, hal ini yang menyebakan Lipa' Sabbe berkualitas hanya mampu di beli oleh kalangan tertentu ditambah produksi lipa' sabbe kualitas rendah sudah mulai ditinggalkan karena kehilangan pasar yang disebabkan oleh invasi sarung sintetis.

Perawatan

Perawatn sarung sutra dari Lipa' sabbe tidak dilakukan sama persis denga kain sarung berbahan lain. Seni menjemur dengan menggunakan pemberat dan dalam waktu yang lama membuat para pemiliki lipa' sabbe berfikir untuk mengenakannya dalam kegiatan sehari-hari. Selain itu beang sutra tidak tahan panas karena dapat beruabh bentuk teruatam dari segi tenunan, sehingga Lipa' Sabbe juga tidak boleh melalui proses setrika.

Invasi Budaya

Faktor yang paling besar yang menggerus Lipa' Sabbe adalah adalah Invasi budaya asing baik dari barat maupun dari timur. Serangan budaya asing yang masung mampu merasuki Jiwa dari para remaja calon penerus budaya sehingga Fashion yang berbau modern jauh lebih digandrungi dibandingkan dengan fashion tradisional yang hanya akan ditemukan pada waktu-waktu tertentu. Kesadaran dari orang-orang Bugis sendirilah yang mampu menjaga dan melestarikan nilai-nilai yang tersimpan dalam tenunan Lipa' Sabbe.

Ahmad Dahlan

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 03/03/2017

Disqus Comments