Kampungbugis.com - Mengenal Huruf Tradisional Bugis Makassar: Lontara atau Hurupu Jangan-Jangan.

Kemajuan kehidupan suku Bugis Makassar pada Abda ke 15 dapat tercermin dari tingkat kebudayaan yang diwariskan pada hari ini, salah staunya adalah bentuk huruf, bahasa dan dialegtike khusus yang tidak menyerupai jenis dan budaya dari suku-suku lain. Hal ini mencerminkan bahwa suku bugis-makassar memiliki kemampuan untuk membentuk peradabaannya sendiri padahal pada masa tersebut ada huruf Pallawa dan juga huruf arab yang bisa digunakan oleh kerajaan mengingat Islam adalah agam resmi dari kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Lontara sudah diperkenalan dan digunakan sebagai bahasan dan tulisan kerajaan pada awal abad ke 15.

Prof Mattulada (alm) menjelaskan bahwa bentuk utama dari huruf Lontara adalah "sulapa eppa wala suji". Wala Suji sampai saat ini masih dapat ditemukan pada saat pesta perinakahan. Secara harfiah, Wala suji berarti penjaga putri (suji), pemisaha ataupun pagar. Wlaa suji di bangun dari bahan utama bamboo dengan bentuk dinidng dari anyaman bamboo yang diagonal 45 derajat sehingga dalam satu kesatuan, bentuk tersebut akan menyerupai Belah Ketupat. Sulapa appa memliki makna mistis dalam kepercayaan dan budaya suku Bugis-Makassar klasik yang melambangkan bentuk dari alam semesta yakni api, angin, air dan tanah. Pada awalnya huruf Lontara digunakan sebagai tulisan resmi dari pemerintah yang berisi pertauran pemerinath. Dinamakan huruf Lontara karena pada awalnya, daun lontar digunakan sebagai media tulisan dan digunakan lidi atau kalam (ijuk kasar dari pohon enau) sebagai alat pengukir pada daun lontar yang sejatinya sudah memiliki urat daun tersendiri. Sebagain ornag juga menyebutnya sebagai hurupu jangan-jangan karena membentuk seperti burung terbang namun penggunaan tidak begitu populer karena tidak memiliki dasar yang kuat.

Sejarah Huruf Lontara

Sejarah tertua tentang huruf Lontara merupakan huruf yang dikembangkan dari tulisan suku Kawi yang merupakan bagian dari Nusantara (Indonesia) pada abad VIII, namun sampai saat ini tidak dapat ditarik garis langsung dari Kawi atau kerawat dari suku Kawi karena kurangnya bukti-bukti yang dapat ditemukan. Selaind dari pendapat tersebut, ada pendapat yang menytakan bahwa tulisan Lontara berasal dan dikembangkan dari tulisan Rejang, salah satu suku di Sumatera Selatan. Hal ini disimpulkan dari kemiripan bentuk dan grafis dari ke dua tulisan tersebut hanya saja tulisan Lontara memiliki usia tulisan yang jauh lebih mudah.

Kata “Lontara” sendiri berasal dari literature asli suku di Sulawesi Selatan, sejarah dan Geneologi masyarakat Sulawesi Selatan. Salah satu tulisan yang paling kuno dan panjang dan ditulis hingga 6000 halaman adalah karya sastra I La Galigo. Huruf Lontara juga telah digunakan secara luas dalam penulisan dan pengarsipan dokumen-dokumen penting kerajaan, peta, peraturan perdagangan, surat perjanjian, dan juga catatan-catatan harian. Catatan yang jauh lebih modern dari I La Galigo tersebut memang sudag tercatat dalam bentuk buku dengan media kertas namun sebagian lainnya masih menggunakan masih dituangkan pada daun Lontara tipsi kemudian digulung dengan menggunakan dua poros kayu. Tesk kemudian digulung tidak dari atas ke bawah namun dari kiri ke kanan.

Sampai tahun 1990, masih banyak dari masyarakat bugis dan Makassar yang masih menggunakan Lontara dalam kehidupan seharihari mereka seperti pada pesta pernikahan dan bahkan pembubuhan huruf Lontara pada tanda tanga, namun periode tahun 2010 penggunaan Lontara sudah sangat jarang digunakan dalam kehidupan masyarakat awam karena kurangnya kesadaran untuk melesetraikan Budaya. Pelestariannya kini ditangani oleh pemerintah daerah dan dapat dilihat dari Implementasi penggunaan tulisan lontara pada papan informasi miliki pemerintah seperti nama Jalan. Selain hal tersebut upaya dalam bidang pendidikan dan budaya seperti cakupan muatan Lokal khas Sulawesi Selatan dimasukkan ke dalam dunia pendidikan formal.

Sistematika Penulisan Huruf Lontara

Sistematika penulisan huruf Lontara dasar dibentuk dari 23 jenis huruf konsonan dengan bentuk menyerupai aksara Brahmi yakni setiap konsonan akan diikuti vokal inheren /a/. Penulisan kemudian diubah dengan pemberian diakritik dengan bunyi /i/, /u/, /e/, /ə/, atau /o/. Perbedaan dengan huruf terletak pada pemberian virama dengan konsonan akhir, seperti penulisan ayam “Jangang” ditulis hanya dengan huruf “Janga” dengan gemitasi yang tidak dituliskan, dengan demikian kesulitan akan ditemukan oleh para pembaca yang tidak mengerti bahasa Bugis dan Makassar secara asli. Sebagai contoh “Bassang” sejenis makanan dari jagus rebus yang di berika santan dan juga “Basa” atau basa. Kedua kata tersebut akan ditulis dengan tulisan “Basa”.

Huruf dan tulisan lontara ditulis dari kiri ke kanan seperti tulisan latin meskipun kebanyakan tulisan yang dituliskan dalam kertas gulungan ditulis dari atas kebawah, penulisan aksarra Lontara diurut dan digulung menyamping. Meskipun demikin ada bebearp atulisan yang tidak dituliskan dengan beraturan atau dengan kata lain ditulis dengan susunan boustrophedon. Hal ini siebabkan oleh habisnya ruangan dalam tulisan (kerta dari Lontara) yang telah tersedia sehingga tulisan dibuat berkelok atau zig zag sampai tidak ditemukan lagi tempat yang kosong untuk menulis. Kedua jenis sistematika penulisan ini dapat dijumpai pada buku-buku tua terbitan (susunan) tahun 1910 ke bawah namun pada saat ini kebanyakan tulisan Lontara sudah ditulis sesuai dengan kaidan penulisan latin.

Umar Azmar MF

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 03/12/2017

Disqus Comments