Kampungbugis.com - Konsepsi Adat dan Spiritualitas di Kalangan Masyarakat Bugis.

Adat Istiadat atau Konsep adat dalam suku bugis dikenal dengan sebutan panga'dereng yang merupakan sekumpulan rangakaian norma-norma yang saling terkait satu sama lain yang mengatur kehidupan masyarakat di suku-suku bugis. Kata ade' (adat) adalah istilah yang digunakan secara meluas sebelum islam akhirnya masuk ke kerajaan di Sulawesi Selatan sekitar abad ke 15. Konsep ini mengatur serangkaian kontrak-kontrak yang berlaku pada keadaan social, perjanjian yang dipercaya telah dilakukan oleh nenek moyang dan disampaikan oleh turun temurun.

Isi dari kontrak dan perjanjian tersebut hamper sebagaian besar berkaitan dengan hubungan antara manusia dan batara (Dewata) dan di masa Islam masuk, ade' tidak ditinggalkan secara utuh dan terjadi akulturasi ade' yang masih tersisa-sisa beberapa ritual yang masih dapat dijumpai pada saat ini. Selain dari Ade', Konsep pangadereng juga berbicara mengenai hukum norma, rapang (keteladanan), wari (sistem strata dalam kehidupan masyarakat), dan Sara' (diambil dari kata Syariat Islam)

Kebudayaan Bugis - Makassar

Sebuah cerita yang dipercaya menjadi nenek moyang suku-suku di Sulawesi Selatan di kenal dengan nama I La Galigo yang berasal dari keturunan yang sama dengan Sawerigading, We Tenriabeng, We Opu Sengngeng, We Cudai dan lain-lain adalah sebuah tokoh yang hidup pada zaman pra Islam dan hamper seluruhnya masih menganut aliran Animisme yakni kepercayaan akan adanya dunia langit yang disebut Kahyangan dan di isi oleh para dewa yang bertanggung jawab mengatur kehidupan di dunia dan di dunia langit. Hal ini membuat nilai-nilai social yang tertanam di kalangan masyarakat khususnya nilai spiritual sangat kental akan unsur kehidupan dewata. Upacara-upacara spiritual berupa pemujaan dan persembahan kepada leluhur, pemberian sesaji kepada penguasa laut, pohon besar yang dianggap bertuah dan juga roh-roh yangdianggap mendiami tempat-tempat disekitar kehidupan manusia. KEpercayaan tersebut telah tertanam pada masyarakat bugis-makassar dan masih dapat disaksikan hingga saat ini meskipun pergeseran proses tetap terjadi.

Setelah Islam masuk ke Sulawesi Selatan dank e Masyarakat bugis, perubahan besar terjadi terutama pada tingkat ade' dan juga nilai spiritual. Seluruh nilai yang bertentangan dengan pandangan dan Syariat Islam perlahan-lahan ditinggalkan atau dimodifikasi agar terbungkus nuansa Islam. Hal ini masih dapat dilihat dengan adanya dukun-dukun yang menggunakan do'a-doa dalam bahasa Arab dan mengambil kutipan-kutipan ayat dalam Al-Qur'an untuk menyerahkan sesajen di Laut, sungai, dan pohon besar meskipun sudah sangat jarang di temukan. Peranan agama Islam yang sangat kuat mengubah kehidupan spiritual orang-orang bugis dan membuat hampir secara keseluruhan keturunan I La Galigo menganut agama Islam.

Proses akulturasi Syariat Islam pada sendi-sendi kehidupan masyarakat bugis ini ditengarai oleh paham dari mahzab Syafi'I dan peranan para ulama yang sangat toleran dalam menyebarkan agama Islam. Pelarangan tidak langsung diberikan namun secara perlahan diberikan kepada pendidikan-pendidikan Islam. Hasilnya, nilai-nilai Islam-islam berhasil memasuki seluruh sendi kehidupan masyarakat seperti pada pernikahan, penymabutan kelahiran bayi yang diganti dengan Aqiqah, pembacaan do'a yang digantikan dengan surat yasin dan tahlilan kepada orang yang telah meninggal dan melaksanakan Haji sebagai kewajiban pemeluk agama islam yang ke 5 bagi yang mampu.

Islam menyebar luar di Sulawesi Selatan dan di Indonesia di mulai dari jalur perdagangan dan juga keberhasilan para ulama mendekati para penguasa dan raja-raja sehingga mau menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan. Setalah Islam masuk di dalam istana-istana para raja, para bangsawan pun ikut memeluk agama Islam dan jadilah Islam diterima secara menyeluruh di masyarakat bugis. Sejarah mencatat bahwa Raja bone yang bergela Matanna Tikka Sultan Alimuddin Idris Matindrie ri Naga Uleng, La Ma;daremmeng dan Andi Mappanyuki adalah raja-raja yang menerapkan syariat Islam sebagai hukum kerajaan. Bukti ini masih dapat ditemukan dalam manuskrip kuno yang ditulis dalam huruf Lontara.

Nilai Budaya dalam Keseharian Masyarakat Bugis

Nilai-nilai ade' Bugis yang ada diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi panduan dalam hubungan social dan telah membudaya. Sebut saja salah satu budaya yang paling kental dan menjadi ciri khas yang dikenal di seluruh dunia seperti ucapan "Tabe" yang diucapkan sambil membungkuk ketika melewati sekumpulan orang yang lebih tua, mengucapkan kata "Iye'" hampir seruap dengan ucapan "Inggih, enjih" dalam bahasa jawab merupakan kalimat pengantar atau penutup pada saat memberikan informasi kepada orang yang lebih tua. Hal ini sangat sesuai dengan pandangan Islam dimana yang muda harus menghormati orang yang lebih tua dan yang tua memberikan contoh kepada yang yang lebih muda.

Siri' dari sebagai salah satu nilai Pengadereng dituangkan pada nilai yang paling tinggi dalam masyarakat Bugis bahkan kaum lelaki bugis dewasa akan menempatkan harga siri' lebih tinggi dari kematian. Mati dalam membela siri' bukanlah suatu bentuk kerugian tapi kebanggaan. Siri' semakin bernilai mahal terutama ketika yang dipertaruhkan adalah nama baik dari keluarag maka seluruh cara akan digunakan untuk menjaga nilai tersebut.

Meskipun pada hari ini nilai Siri' telah mengalami pergeseran nilai dan menjadi sesuatu yang tidak perlu dirpetahankan lagi namun pada prakterknya masih banyak orang-orang yang menganut ade' siri'. Pergeseran nilai negative juga tidak lupt dri nilai siri', menurut Hamid Abdullah siri' bahkan disalah interpretasikan sebagai bentuk legitimasi atas tindakan anarkis, kekerasan dan tindakan kriminal, padahal sesungguhnya nilai dari siri' harus tetap berada dalam koridor ade' serta ajaran agama Islam.

Umar Azmar MF

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments