Kampungbugis.com - Bissu, Aktor adat dalam bugis.

Pelengkap Beberapa Ritual Adat Suku Bugis

Pernah mendengar istilah Transgender? Jika kata tersebut memiliki konotasi negative di beberapa wilayah di dunia bahkan di Indonesia, di Sulawesi Selatan, khususnya suku Bugis pada zaman dahulu, Bissu (Secara Tampak adalah pria yang menyerupai wanita) justru memiliki suatu tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat bugis.

Bissu adalah seorang pendeta yang dianggap tidak memiliki gender namun kebanyakan dari mereka adalah pria yang mengenakan pakaian wanita tradisional bugis. Hari ini Bissu masih dapat ditemukan di beberapa ritual dan pesta adat di kabupetan Pangkajene, Bone, Soppeng, Wajo dan terutama Sidrap pada komunitas penganut agama dan kepercayaan tradisional Talotang di Amparita kabupaten Sidrap. Bissu merupakan golongan yang tidak terikat gender, bukan laki-laki dan juga bukan perempuan yang memmiliki peran dalam suatu ritual. Peran para Bissu adalah penghubungan antara manusia dan juga dewa, namun sampai hari ini belum jelas batasan Gender yang ada pada Bissu.

Seorang Peneliti dari University of Western Australia di Perth, Australia bernama Sharyn Graham menyatakan bahwa seorang Bissu tidak dapat dikategorikan dalam kelompok banci atau waria karena dalam penampilan mereka merak tidak mengenakan pakaian dari gender manapaun melainkan ada ciri kash tersendiri yang sudah dipercaya oleh para Bissu sejak zaman dahulu. Sharyn Graham bahkan menegaskan bahwa dalam suku Bugis, mereka tidak hanya mengenal dua jenis kelamin melainkan lima golongan jenis kelamin yakni;

  1. laki-laki atau oroane;
  2. Perempuan atau makkurai;
  3. Perempuan yang menyerupai lelaki atau calalai;
  4. laki-laki yang menyerupai perempuan atau Calabai; dan
  5. Bissu golongan tanpa gender. Masyarakat bugis mempercayai bahwa Bissu adalah campuran dari seluruh jenis kelamin yang ada.

Bissu

Pada pengamatan terbatas, seorang Bissu seringkali dianggap sebagai seorang Waria, karena kebanyakan dari para Bissu aadlaah seorang Pria yang tidak berpenampilan Pria, hal ini memberikan dampak pada perubahan kelakuan dari gender yang digolongkan ke gender lain yakni wanita, namun pada dasarnya Bissu tidak hanya menjadi seorang pria yang melakukan kegiatan kaum pria akan tetapi gabungan dari seluruh aspek gender yang masuk dalam satu individu atau interseksual. Bissu pada dasarnay tidak hanya seorang Pria seperti yang banyak diketahui oleh orang awam, namun wanita juga dapat menjadi Bissu.

Peran Bissu dalam gender tidak terikat pada bentuk fisik dari jenis kelamin mereka namun secara eksklusif mereka tidak dibatasi oleh anatomi tubuh melainkan indentitas dari ketidaaan gender atau bahkan mencakup seluruh gender yang telah disebutkan secara keseluruhan. Hal tersebut dapat tercermin dari kebiasaan berpakaian pada Bissu yang tidak lazim atau tidak dikenakan oleh pria maupun wanita sebagaimana yang telah diatur dalam kasta para Bissu.

Peran Bissu dalam budaya Bugis

Bissu memiliki peran unik dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat bugis. Konsep dari para Bissu adalah kepercayaaan bahwa manusia dalam batasan gender melainkan ada diantara tenga-tengah yakni yang tersembunyi dan juga yang tampak. Pandangan ini dianggap mirip dengan idel awal mengenai “Khanit” dan “Mhukannathun” yang merupakan pengawal dari batas-batas kesucian. Pada awalnya dalam budaya Muslim tradisional yang hanya di temukan di Sulawesi Selatan, tentu saja hal ini adalah bentuk asimilasi budaya dimana kepercayaan tradisional jauh lebih ada sebleum Islam masuk dan diterima sebagai agama di Sulawesi Selatan.

Bissu adalah tempat meminta nasihat dan persetujuan yang didapatkan dari kekuasaan dunia batin. Nasihat dari para Bissu dipercaya tidka berasal dari diri Bissu itu sendiri melainkan perwakilan dari makhluk gaib yang masuk ke dalam diri Bissu. Jin tersebut adalah perwakilan dari dunia yang tidak tampak. Setelah dirinya dirasuki oleh Jin, Bissu biasanya akan mendapatkan kekuatan lebih dari dunia gaib dimana mereka tidak akan empan dengan senjata tajam dan juga panas dari bara api.

Keterkaitan Islam dan Bissu di Sulawesi Selatan

Dalam kebudayaan masyarakat Islam lokal, Tradisi memanggil para Jin tentu saja tidak masuk dalam Islam namun dalam kasus di Sulawesi selatan keberadaan pada Bissu dan juga ritualnya tetap dapat dipertahankan dengan syarat bahwa BIssu tidak melakukan tindakan dan pengampilan keputusan yang bertentangan dengan Syariat Islam. Islam memberikan kepercayaan bahwa jin memang telah diciptakan bersama manusia dengan izin Allah namun aturan Islam tidak ingin masuk dalam ranah kepercayaan Bissu sehingga tidak terjadi perpecahan pada masa penerimaan Islam di kerajaan-kerajaan Bugis.

Kehidupan sehari-hari Para Bissu

Bissu adaah bagian dari Masyarakat yang juga memiliki posisi sebagai manusia, pada status sosial, golongan Bissu diberikan kewenangan penuh dan tidak terdapat larangan bagi mereka untuk memasuki wilayah daerah yang ditinggali kaum perempuan dan juga laki-laki. Mereka dapat melakukan kedua hal yang dilakukan baik laki-laki maumpun perempuan namun dalam pembagaian masih sedikti sulit untuk dijelaskan. Pada kehidupan Modern, keberadan Bissu dianggap sebagai golongan yang melestarikan adat suku Bugis meskipun saat ini keberadan para Bissu sudha jarang ditemukan karen atertekan pada aturan yang diterima secara Global dan juga aturan Agama yang dianut di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan.

Ahmad Dahlan

Artikel ini telah diperbaharui, pembaharuan terakhir pada: 02/18/2017

Disqus Comments